Regenerasi sebagai Investasi: Masa Depan Mathla’ul Anwar dan Indonesia Emas 2045

Bagikan
Aceng Murtado: Alumni Mathla’ul Anwar Cikeusik Desa sejak MI hingga MA, dan Pengurus DPD Himpunan Mahasiswa Mathla’ul Anwar Lebak

Narwala.id. Tulisan ini lahir dari kegirangan dan kecintaan saya menghadapi muktamar Mathla’ul Anwar yang ke XXI. Saya sendiri dibesarkan oleh ideologi yang bernama Mathla’ul Anwar. Sejak Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA), saya tumbuh dalam lingkungan pendidikan di bawah naungan Mathla’ul Anwar. Nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan pengabdian kepada umat (sosial) yang saya yakini hari ini tidak bisa dilepaskan dari proses panjang pembinaan organisasi ini. Bahkan sampai hari inipun, saya masih aktif dalam kepengurusan DPD HIMMA Lebak. Karena itu, pandangan ini adalah refleksi internal dari seorang kader yang ingin melihat organisasinya melangkah lebih jauh.

Pada 11–13 April 2026 mendatang, tapatnya di Kota Serang Banten, keluarga besar Mathla’ul Anwar (MA) akan menggelar Muktamar ke-XXI dan Munas ke-VI Muslimat Mathla’ul Anwar (MUSMA). Agenda rutinan ini bagi saya pribadi bukan sekadar forum suksesi kepemimpinan saja, agenda ini adalah momentum yang sangat strategis untuk menentukan arah gerak organisasi di tengah perubahan sosial, politik, dan global yang kian dinamis.

Organisasi Islam dan Tantangan Global

Dalam kajian sosiologi agama, organisasi keagamaan tidak hanya dipahami sebagai lembaga dakwah saja atau pendidikan saja, tetapi juga sebagai bagian penting dari masyarakat sipil (civil society) yang menjembatani negara dan masyarakat. Di titik inilah agama memiliki fungsi sosial yang sangat strategis, ia menghadirkan nilai, moralitas, dan orientasi etik dalam kehidupan di ruang publik. Karena sekali lagi, agama tidak hanya sekadar mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memberi arah bagi kehidupan kolektif suatu bangsa.

Sosiolog agama seperti Robert N. Bellah bahkan menjelaskan pentingnya agama hadir di ruang-ruang publik melalui konsep civil religion. Menurut Robert, dalam kehidupan berbangsa selalu ada nilai-nilai moral bersama yang bersumber dari tradisi keagamaan, seperti keadilan, tanggung jawab, pengorbanan, dan komitmen terhadap kebaikan umum. Artinya, agama tidak boleh hanya berada di ruang privat, tetapi harus memberi kontribusi positif dan nyata dalam kehidupan publik.

Pemikiran ini kemudian diperkaya oleh Jürgen Habermas melalui gagasannya tentang masyarakat pasca-sekuler. Habermas menegaskan bahwa modernitas tidak serta-merta menghapus peran agama. Justru dalam masyarakat yang plural dan kompleks, agama tetap dibutuhkan dalam diskursus publik. Namun, agar dapat diterima dalam ruang publik yang rasional dan demokratis, agama perlu menerjemahkan nilai-nilainya ke dalam bahasa yang universal dan argumentatif. Dengan bahasa lain, bahwa nilai agama harus dapat dikomunikasikan sebagai nilai kemanusiaan yang terbuka (inklusif).

Dan Mathla’ul Anwar, memiliki peluang besar itu untuk memperluas perannya, tidak hanya di tingkat lokal atau nasional, tetapi juga di tingkat internasional. Sebagai organisasi Islam yang lahir dari tradisi pendidikan dan dakwah, Mathla’ul Anwar memiliki modal sosial, jaringan kelembagaan, dan warisan intelektual yang kuat. Modal ini dapat dikembangkan menjadi kekuatan moral yang berkontribusi pada isu-isu kebangsaan maupun global.

Di tingkat nasional misalnya, Mathla’ul Anwar dapat memperkuat perannya dalam isu-isu pendidikan, social, HAM, moderasi beragama, dan penguatan nilai kebangsaan. Organisasi Mathla’ul Anwar nantinya dapat menjadi jembatan antara aspirasi umat dan kebijakan negara, sekaligus menjadi penyeimbang dalam dinamika sosial-politik. Dengan pendekatan yang moderat dan solutif, MA dapat menunjukkan bahwa Islam tidak hanya normatif, tetapi juga konstruktif dalam menjawab persoalan Masyarakat saat ini.

Di tingkat global, peran tersebut juga bisa diperluas melalui diplomasi keagamaan dan jejaring internasional. Banyak organisasi Islam dunia telah aktif dalam forum-forum global, termasuk yang berada di bawah naungan United Nations (UN) atau PBB, terutama dalam isu pendidikan, toleransi, perdamaian, HAM, dan pembangunan berkelanjutan. Keterlibatan dalam dialog lintas agama, konferensi pendidikan Islam internasional, dan forum perdamaian dunia akan memperkuat posisi Mathla’ul Anwar (MA) dalam percaturan global.

Oleh sebab itu, Mathla’ul Anwar perlu membangun diplomasi keagamaan yang sistematis, memperluas jaringan kerja sama lintas negara, serta menghadirkan gagasan Islam yang moderat, adaptif, dan relevan dengan isu-isu global. Selain itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) baik dalam penguasaan bahasa asing, literasi global, maupun kemampuan diplomasi, menjadi langkah yang sangat penting kedepannya.

Dengan demikian, di era masyarakat pasca-sekuler dan globalisasi saat ini, organisasi keagamaan tidak cukup hanya kuat di akar rumput. Ia juga harus mampu berbicara di tingkat global dengan membawa pesan Islam yang damai dan rasional. Mathla’ul Anwar memiliki potensi besar untuk memainkan peran tersebut, asalkan mampu mengonsolidasikan kekuatan internal dan memperluas cakrawala geraknya ke panggung internasional.

Peran Nasional, Mitra Kritis dan Konstruktif

Seperti yang telah kita ketahui, di tingkat nasional, organisasi keagamaan memiliki posisi strategis sebagai mitra negara sekaligus kekuatan moral masyarakat. Ia tidak hanya menjadi pelaksana dakwah, Pendidikan dan sosial, tetapi juga berfungsi sebagai kontrol sosial yang konstruktif. Dalam tradisi Islam, fungsi ini memiliki dasar normatif yang kuat melalui konsep amar ma’ruf nahi munkar. Allah Swt. berfirman dalam QS. Ali Imran: 104:

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Ayat tersebut menegaskan pentingnya kehadiran kelompok terorganisir yang secara sadar dan sistematis menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan Mathlau’ul Anwar harus lebih berani dalam menyuarakannya. Dalam konteks kebangsaan modern, perintah tersebut dapat kita maknai sebagai kewajiban moral kita untuk terlibat dalam advokasi kebijakan publik, pendidikan politik umat, penguatan etika sosial, serta pelayanan sosial bagi masyarakat luas, tentunya tanpa memandang ras, suku, bahkan agama sekalipun. Kritis dalam arti berani menyampaikan masukan, koreksi, dan bahkan kritik tajam terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada keadilan sosial. Konstruktif dalam arti tetap menjaga stabilitas, persatuan, serta menawarkan solusi nyata atas persoalan bangsa.

Teori sirkulasi elite yang dikemukakan oleh Vilfredo Pareto, harus menjadi pijakan kita bahwa setiap organisasi atau sistem sosial akan mengalami pergantian elite, mau tidak mau itu harus dan pasti. Maka, jika regenerasi kepemimpinan berjalan sehat (normal), organisasi akan tetap dinamis dan adaptif. Tapi sebaliknya, tanpa pembaruan elite, organisasi cenderung stagnan, eksklusif, dan kehilangan daya respons terhadap perubahan zaman.

Karena itu, kepemimpinan di tubuh Mathla’ul Anwar, terutama Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar ke depan tidak cukup hanya memiliki kapasitas administratif atau kemampuan mengelola organisasi secara teknis. Pemimpin harus memiliki visi kebangsaan yang luas, bisa memahami dinamika sosial-politik nasional, serta yang terpenting bisa dan mampu menjembatani aspirasi umat dengan kebijakan negara. Pemimpin juga, harus memiliki jejaring lintas organisasi kemasyarakatan (ormas), tokoh agama, akademisi, dan pemangku kebijakan.

Dengan kombinasi landasan teologis, kematangan sosiologis, dan kepemimpinan yang visioner, Mathla’ul Anwar (MA) dapat tampil sebagai kekuatan moral bangsa Indonesia. Ia hadir sebagai mitra negara yang berintegritas, berpikir jernih, dan berorientasi pada maslahatil ummah (butir 9 prinsip Mathla’ul Anwar).

Regenerasi, Investasi Menuju Indonesia Emas 2045

Mathla’ul Anwar memiliki badan otonom bernama Himpunan Mahasiswa Mathla’ul Anwar (HIMMA), bukan hanya itu saja, nama-nama badan otonom yang lainnya seperti Generasi Muda Mathla’ul Anwar (Gema MA), Ikatan Pelajar Mathla’ul Anwar (IPMA), dan Muslimat Mathla’ul Anwar (Musma) juga adalah regenarasi Mathla’ul Anwar kedepan, dan itulah ruang kaderisasi yang paling strategis. Dalam perspektif pembangunan sumber daya manusia, investasi pada generasi muda merupakan fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045, sebagaimana ditegaskan dalam berbagai dokumen perencanaan nasional terkait bonus demografi.

Indonesia Emas 2045 bukanlah agenda yang jauh dan abstrak. Tahun 2045 hanya berjarak 19 tahun dari hari ini. Jika dihitung secara demografis, mereka yang akan berada pada usia produktif (sekitar 25–55 tahun) pada tahun 2045 adalah generasi yang saat ini berusia sekitar 6–36 tahun. Artinya, pelaku utama Indonesia Emas hari ini adalah anak-anak sekolah dasar, pelajar, mahasiswa, dan kader muda organisasi.

Dalam konteks Mathla’ul Anwar, ini adalah alarm sekaligus peluang. Generasi yang saat ini berada di IPMA, Gema MA, dan terutama HIMMA, merekalah yang akan menjadi pemimpin organisasi, pengambil kebijakan, akademisi, profesional, dan tokoh umat pada 2045 nanti. Jika hari ini kaderisasi berjalan biasa-biasa saja, maka 20 tahun ke depan organisasi akan menghadapi krisis kepemimpinan. Namun jika hari ini kaderisasi dirancang secara serius, sistematis, dan berkelanjutan, maka Mathla’ul Anwar akan memiliki stok elite yang matang secara intelektual, spiritual, dan organisatoris.

Indonesia akan menikmati bonus demografi pada periode 2030–2045. Namun bonus demografi bukanlah jaminan otomatis menjadi kemajuan. Ia bisa menjadi “bonus” jika kualitas sumber daya manusianya unggul, tetapi bisa berubah menjadi “beban” jika generasinya lemah secara kompetensi dan karakter

Himpunan Mahasiswa Mathla’ul Anwar (HIMMA) bukan sekadar organisasi mahasiswa pelengkap struktur, HIMMA adalah laboratorium kepemimpinan. Karena itu, pengurus besar yang terpilih harus bisa:

  1. Mendesain sistem kaderisasi berjenjang dan berkelanjutan
  2. Mendorong kemandirian ekonomi kader sebagai basis kekuatan organisasi
  3. Memberikan ruang aktualisasi yang nyata bagi kader muda Mathal’ul Anwar

Karena, tanpa kader yang unggul secara intelektual, matang secara spiritual, kuat secara organisasi, dan mandiri secara finansial, sulit membayangkan Mathla’ul Anwar mampu bertahan dalam kompetisi sosial yang semakin kompleks. Maka, muktamar MA ke XXI bukan hanya soal siapa yang terpilih, tetapi bagaimana visi besar organisasi dirumuskan. Dan kepemimpinan yang lahir dari forum ini harus mampu mengintegrasikan tiga agenda utama:

  1. Penguatan peran nasional
  2. Ekspansi jejaring internasional
  3. Konsolidasi kaderisasi melalui HIMMA dan seluruh banom Mathla’ul Anwar

Jika tiga agenda ini dijalankan secara simultan, Mathla’ul Anwar (MA) akan tampil bukan sekadar sebagai organisasi historis, tetapi sebagai kekuatan moral-intelektual yang relevan dengan zaman. Muktamar ke XXI dan Munas ke VI Muslimat Mathla’ul Anwar adalah panggilan sejarah. Melalui muktamar menuntut kedewasaan berpikir, kejernihan visi, dan keberanian mengambil langkah yang strategis. Dan akhiranya di tangan kepemimpinan yang visioner dan kaderisasi yang kuat, Mathla’ul Anwar dapat melangkah lebih jauh menuju peran nasional yang signifikan dan kontribusi internasional yang bermakna.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments