QUO VADIS MATHLA’UL ANWAR: Antara Keterbukaan dan Ketidaksengajaan

Bagikan

Sebuah Catatan Pinggir Menuju Muktamar XXI
Ocit Abdurrosyid Siddiq

Saresehan Tokoh Mathla’ul Anwar

narwala.id – Rabu pagi ini (11 Februari 2026), kopi hitam di meja saya terasa lebih pekat dari biasanya. Bukan karena takarannya, tapi karena pikiran saya sedang melayang jauh, melintasi batas waktu dan geografi: dari Binuangeun Wanasalam Lebak Banten, mundur ribuan tahun ke Jalan Appian, Roma.

Penyebabnya sederhana: sebuah banner undangan dari Pengurus Wilayah Mathla’ul Anwar (PWMA) Provinsi Banten bertajuk “Quo Vadis Mathla’ul Anwar”.

Bagi telinga awam, frasa ini mungkin terdengar gagah, intelek, dan modern. Tapi bagi saya seorang yang pernah menyesap ilmu Aqidah dan Filsafat, frasa ini memantik senyum simpul yang penuh tanda tanya.

Jejak Langkah di Jalan Appian

Secara asbabul wurud (sebab-sebab munculnya), istilah “Quo Vadis” memiliki akar tradisi Nasrani yang sangat kental. Alkisah, dalam kitab-kitab Apokrifa, diceritakan Rasul Petrus lari meninggalkan Roma karena takut akan penyiksaan Kaisar Nero. Di tengah jalan, ia bertemu dengan visi Yesus (dalam versi Nasrani) yang sedang memanggul salib berlawanan arah menuju Roma.

Petrus bertanya, “Quo vadis, Domine?” (Ke mana Engkau pergi, Tuhan?).

Jawaban Yesus membuat Petrus malu dan berbalik arah kembali ke Roma untuk menghadapi takdirnya: mati syahid (ini juga istilah dalam konteks versi Nasrani ya).

Jadi, istilah ini lahir dari rahim teologi Kristen, sebuah terminologi yang sarat dengan muatan spiritualitas di luar tradisi Islam.

Keterbukaan atau Kecolongan?

Di sinilah letak menariknya. Mathla’ul Anwar selama ini dicitrakan—atau setidaknya dikonotasikan—sebagai ormas Islam yang agak puritan, penjaga gawang akidah yang ketat, dan sangat berhati-hati dengan “isme-isme” dari luar.

Tiba-tiba, muncullah banner resmi ini.

Saya jadi bertanya-tanya sambil tersenyum dalam hati:
Apakah panitia benar-benar sadar akan sejarah teologis istilah ini? Jika iya, maka saya harus berdiri dan bertepuk tangan paling keras. Ini adalah bukti sahih bahwa Mathla’ul Anwar kini telah bertransformasi menjadi ormas yang inklusif, terbuka, dan percaya diri.

Kita tidak lagi alergi meminjam istilah asing (“Barat/Kristen”) selama substansinya relevan untuk muhasabah organisasi. Ini adalah lompatan peradaban!

Namun, ada sisi nakal di benak saya yang berbisik: “Jangan-jangan panitia tidak tahu menahu soal asbabul wurud-nya…”

Jangan-jangan mereka hanya mengutipnya karena terdengar keren di telinga, tanpa sadar asal-usulnya. Jika ini yang terjadi, maka anggapan bahwa MA sudah “terbuka” tadi “batal demi hukum”, hehe.. Yang terjadi bukanlah inklusivitas, melainkan “kecelakaan literasi” yang justru membawa berkah. Hehe..

Tapi sudahlah, mari kita berhusnuzan. Anggap saja ini adalah sinyal bahwa MA siap berdialog dengan peradaban apa pun demi kemajuan.

Panggung Konsolidasi dan Audisi

Terlepas dari perdebatan istilah, saya sangat mengagumi langkah taktis PWMA Banten. Acara Rabu, 11 Februari 2026 pagi ini, bukan sekadar kumpul-kumpul. Ini adalah Konsolidasi Akbar.

Menjelang Muktamar XXI, kita butuh “pemanasan”. Kita butuh arena untuk “mencari bakat”. Di forum inilah, potensi-potensi yang selama ini terserak (balung pisah) dikumpulkan kembali. Ini adalah panggung audisi terbuka bagi siapa saja yang merasa pantas memimpin biduk besar ini lima tahun ke depan.

Di sini pulalah kita menguji kedewasaan berorganisasi.

Kita tahu, ada nuansa khas yang sering saya sebut sebagai “Menes Style”—gaya kritis, lugas, kadang meledak-ledak. Sarasehan ini adalah wadah untuk menyalurkan energi itu menjadi sesuatu yang positif.

Daripada berteriak-teriak di luar pagar, ayo masuk ke gelanggang! Kira-kira demikian ajakan saya.

Jangan sampai kita terjebak pada mentalitas usang: “Ku batur ulah, ku sorangan teu bisa” (Oleh orang lain tidak boleh/dilarang, tapi giliran dikerjakan sendiri tidak mampu). Ini penyakit lama yang harus diamputasi. Kritik boleh, tapi harus solutif. Melarang orang lain maju boleh, asalkan diri sendiri sanggup menggantikannya dengan lebih baik.

Nyalakan Obor Sendiri

Maka, Quo Vadis Mathla’ul Anwar sesungguhnya adalah pertanyaan tentang kualitas diri kita masing-masing.

Di era menyongsong Indonesia Emas 2045, Mathla’ul Anwar tidak butuh “pemadam kebakaran” yang sibuk mematikan cahaya orang lain demi terlihat bersinar sendiri. Falsafah yang harus kita pegang teguh di sarasehan nanti adalah:

“Caangan bae obor sorangan, teu ngantik mareuman obor boga batur.” (Nyalakan saja obor milik sendiri, tidak perlu sibuk memadamkan obor milik orang lain).

Biarkan gagasan-gagasan itu bersinar. Biarkan kandidat-kandidat terbaik—baik yang muda maupun yang sepuh—menunjukkan nyala apinya masing-masing.
Forum di Serang nanti akan menjadi saksi: siapa yang obornya paling terang menyinari jalan masa depan Mathla’ul Anwar, dialah yang layak kita dorong, tanpa harus meniup mati lilin kawan di sebelahnya.

Selamat berdialektika, Saudara-saudaraku. Entah itu istilah dari Roma atau dari Menes, yang penting tujuannya satu: Kejayaan Mathla’ul Anwar.

Hadanallah wa iyyakum ilaa shiraatim mustaqiim
*

GSG DPRD Provinsi Banten, Rabu, 11 Februari 2026
Penulis adalah alumnus MI dan MTs Mathlaul Anwar Binuangeun

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments