QUO VADIS MATHLA’UL ANWAR: Antara Keterbukaan dan Ketidaksengajaan
Sebuah Catatan Pinggir Menuju Muktamar XXIOcit Abdurrosyid Siddiq narwala.id – Rabu pagi ini (11 Februari 2026), kopi hitam di meja saya terasa lebih pekat dari biasanya. Bukan karena takarannya, tapi karena pikiran saya sedang melayang jauh, melintasi batas waktu dan geografi: dari Binuangeun Wanasalam Lebak Banten, mundur ribuan tahun ke Jalan Appian, Roma. Penyebabnya sederhana:…

