Oleh: Aceng Murtado

Saya sudah menyelesaikan studi. Dengan segala keterbatasan, dengan alat yang tidak pernah benar-benar berpihak, saya tetap menyelesaikannya. Di antara ratusan halaman bacaan akademik, diskusi, dan penulisan tesis, saya ditemani oleh laptop tua yang lambatnya seperti sedang diseret. Dan ponsel yang sering mati tiba-tiba, seakan ingin ikut menyerah bersama saya.
Tapi saya tidak menyerah.
Saya belajar, menulis, mengedit, merevisi, dan mengirim tugas dengan alat seadanya. Sering kali, saya harus mengulang pekerjaan dari awal karena perangkat membeku. Sering kali saya harus mengetik di ponsel sambil berjuang melawan sakit kepala akibat layar yang retak. Sering kali saya hanya bisa menarik napas dalam diam karena tidak ada yang bisa dijadikan tempat bertanya, apalagi tempat bersandar.
Sekarang saya sudah lulus. Tapi tidak berarti saya sudah sampai.
Saya sedang berada di fase hidup yang lebih berat dari sebelumnya. Di fase ini, saya tidak hanya dituntut untuk bertahan, tapi juga untuk berkontribusi. Menulis buku, merilis berita, menyusun artikel ilmiah, menjadi pengajar, menjadi narasumber, membangun karya, membentuk dampak. Di tengah beban tanggung jawab itu, perangkat saya masih perangkat yang sama yang terus saja menunjukkan tanda-tanda usang dan kelelahan.
Masih laptop yang sama yang jika dibuka terlalu lama, mengeluarkan suara seperti napas tersengal. Masih ponsel yang sama yang jika terlalu banyak notifikasi, bisa mati tiba-tiba tanpa aba-aba. Dunia terus berlari cepat, sementara saya harus berjalan pelan, tidak karena malas, tapi karena rem yang tak bisa saya lepas.
Saya tidak sedang baik-baik saja. Tapi saya juga tidak ingin dikasihani.
Saya hanya ingin berkata dengan jujur, bahwa saya lelah berpura-pura kuat, lelah menutupi perasaan frustrasi saat file hilang, saat aplikasi tidak merespon, saat niat yang besar harus ditahan oleh keterbatasan teknis. Bukan karena saya kurang semangat. Tapi karena perangkat saya memang tak lagi bisa diajak berlari.
Banyak yang menyangka, “Karena sudah lulus Studi, hidupmu pasti lebih baik sekarang.” Mereka tidak tahu, saya justru sedang di titik paling mendesak untuk produktif dan paling tersendat karena alat kerja saya tidak lagi bisa diandalkan. Dunia menuntut saya lari, tapi kaki saya masih terikat rantai lama.
Tapi meski semua ini berat, saya tahu saya harus kuat.
Saya tidak bisa mundur sekarang. Saya tidak boleh diam di tempat. Saya harus bisa melewati jalan ini, meski kaki saya berdarah, meski tangan saya gemetar karena lelah, meski pikiran saya sering ingin menyerah. Tidak ada pilihan lain bagi saya selain terus berjalan. Karena kalau saya berhenti, maka bukan hanya saya yang kalah tapi juga semua harapan yang pernah saya susun sejak dulu.
Saya ingin mereka tahu, bahwa saya tetap berdiri. Bahwa saya tetap menulis, tetap berkarya, tetap berbicara, tetap hadir dengan segala yang saya miliki, meski itu hanya seadanya. Karena saya percaya, bahwa keberhasilan bukan soal kelengkapan alat, tapi kekuatan hati untuk terus melangkah.
Saya sedang berjalan, pelan-pelan, sambil menahan goresan yang belum sempat diobati. Tapi saya tetap berjalan. Karena itu satu-satunya pilihan yang saya miliki. Dan karena saya percaya, di ujung jalan ini meskipun panjang, terjal, dan sepi. Saya percaya, akan ada tempat bagi mereka yang memilih bertahan.

