
Di tengah derasnya arus modernisasi, suara lembut dari pedalaman Baduy mengalun laksana doa panjang:
“Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak”
(Gunung tidak boleh diratakan, lembah tidak boleh dirusak).
Ungkapan sederhana ini bukan sekadar petuah adat. Ia adalah manifesto hidup, piagam kearifan, sekaligus peringatan sunyi dari mereka yang hidup bersahaja, tetapi berpandangan jauh. Bagi masyarakat Baduy, alam bukan objek untuk dimiliki atau dikuasai. Alam adalah bagian dari keberadaan mereka sendiri—dipeluk, dihormati, dan dijaga sebagaimana menjaga kehidupan itu sendiri.
Warisan Leluhur, Bukan Komoditas
Setiap bukit dan lembah di tanah Baduy adalah warisan leluhur. Di sana tertanam sejarah, nilai, dan spiritualitas yang tidak bisa dinilai dengan uang atau ditukar dengan beton dan tambang. Ketika mereka mengatakan gunung tak boleh dilebur, itu bukan berarti melarang pembangunan. Tapi mereka ingin kita mengerti: tidak semua yang bisa dibangun harus dibangun, dan tidak semua yang ada di bumi harus diambil.
Kritik Sunyi terhadap Dunia Luar
Ucapan itu juga menyiratkan bentuk perlawanan kultural terhadap dunia luar yang kerap serakah. Dunia yang melihat tanah hanya sebagai lahan kosong, air hanya sebagai komoditas, dan hutan hanya sebagai ladang modal. Dalam diamnya, Baduy mengingatkan kita bahwa kemajuan tanpa arah akan berujung pada kehancuran yang justru menggerogoti kehidupan manusia sendiri.
Etika Ekologis yang Terlupakan
Baduy hidup dengan prinsip bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasa atasnya. Mereka menjaga keseimbangan, mengambil seperlunya, dan tidak meninggalkan luka pada tanah yang mereka pijak. Ini adalah etika ekologis yang hari ini nyaris hilang dalam kebijakan-kebijakan pembangunan yang hanya menghitung keuntungan dalam angka.
Menjaga agar Hidup Tetap Bernyawa
Lebak dan gunung bukan sekadar bentang alam. Mereka adalah paru-paru, nadi, dan jiwa dari kehidupan yang berkelanjutan. Jika gunung diledakkan dan lembah dikeringkan, maka yang tersisa hanyalah tanah gersang dan warisan yang hancur. Maka ketika Baduy berkata, “gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak”, mereka sejatinya berkata:
“Jangan bunuh kehidupan hanya demi kenyamanan sesaat.”
Penutup
Dalam dunia yang semakin sibuk mencari kemajuan, barangkali kita perlu lebih banyak mendengar suara-suara sunyi dari pinggir. Suara seperti milik orang Baduy—yang tidak berteriak, tapi menggetarkan. Sebuah suara yang mengingatkan kita: kemajuan yang sejati adalah ketika kita mampu menjaga yang telah ada, bukan menggantinya dengan kehancuran baru.

