
Makin hari zaman ini makin menarik, banyak mahasiswa sudah berani bicara soal tauhid, soal penafsiran teks suci, bahkan sampe pada tahap membantah ulama. Baru selesai baca satu buku filsafat, sudah merasa paham Islam secara menyeluruh. Padahal kalau ditanya Apa beda makna rububiyah dan uluhiyah? Saya yakin sulit untuk di jawab.
Ini bukan soal anti intelektual, tapi soal adab dalam ilmu. Sebab, ilmu agama, terutama tauhid itu adalah pondasi. Kalau salah pondasi, semua yang dibangun bisa runtuh. Dan lucunya, banyak yang salah paham soal ini justru datang dari kalangan akademik yang tak pernah mondok.
Anak kuliah merasa dengan gelar dan logikanya, dia bisa bicara apa saja, termasuk agama. Tapi lupa, bahwa ilmu agama bukan sekadar logika. Ada sanad, ada guru, ada adab, dan ada barokah. Tidak cukup hanya modal baca buku PDF, apalagi cuma dari ringkasan Artikel.
Sementara itu, anak pesantren yang mungkin tidak terlalu fasih berdialektika di forum ilmiah, tapi mereka tahu kapan harus diam. Mereka paham kapan sebuah perdebatan justru membuka celah bahaya dalam akidah. Dan ketika mereka salah, kesalahannya biasanya bersifat furu’iyah, cabang, bukan ushul atau pondasi seperti tauhid. Salah di bab qunut atau jumlah rakaat tarawih, itu tidak bikin orang keluar dari Islam.
Tapi coba lihat anak kuliah yang tak pernah mondok, kadang debat soal Tuhan, mempertanyakan kenabian, bahkan mengkritik konsep wahyu dengan teori postmodernisme. Gaya boleh kritis, tapi ilmunya dangkal. Dan inilah yang bahaya, kesalahan orang bodoh kadang cuma mencoreng dirinya sendiri, tapi kesalahan orang yang merasa pintar, bisa menyesatkan banyak orang.
Itulah mengapa, ilmu kampus bisa dikejar anak pondok, karena mereka sudah ditempa disiplin, adab, dan dasar agama yang kuat. Tapi ilmu pondok tak bisa dikejar anak kampus, karena ilmu pesantren itu bukan sekadar teori, tapi perjalanan panjang jiwa, logika, dan hati.
Jadi jangan heran kalau hari ini banyak sarjana, bahkan doktor, yang miskin adab dan keliru dalam urusan akidah. Karena mereka belum pernah belajar diam di depan guru, belum pernah bersujud dalam lelahnya mondok, dan belum pernah merasakan makna ilmu sebagai warisan nabi, bukan sekadar bahan skripsi, tesis atau disertasi.
Ringkasan yang harus di Baca (bagi yang malas baca secara utuh)
Di tengah maraknya intelektualisme instan di lingkungan kampus, penting disadari bahwa ilmu agama tidak bisa disamakan dengan ilmu umum yang cukup dikuasai melalui bacaan dan logika. Ilmu agama memerlukan sanad keilmuan, bimbingan guru, adab, dan spiritualitas sebagai pondasi utamanya. Banyak mahasiswa yang merasa cukup hanya dengan buku dan teori, namun tanpa disertai kerendahan hati dan tradisi keilmuan yang sahih, justru terjebak pada kesalahan fatal dalam hal akidah dan prinsip dasar Islam.
Sebaliknya, santri pesantren, meskipun mungkin tak sefasih kalangan akademisi dalam debat intelektual, justru lebih selamat dalam menjaga inti ajaran Islam karena dididik dengan adab, kedisiplinan, dan pemahaman bertingkat. Maka dari itu, ilmu kampus masih bisa dikejar oleh anak pondok karena mereka memiliki dasar kuat, namun ilmu pondok tidak bisa begitu saja dikejar oleh anak kampus, karena ilmu pesantren adalah hasil dari perjalanan jiwa dan hati, bukan sekadar akal dan argumen.
Ilmu agama bukan untuk diperdebatkan secara sembrono, tapi untuk diamalkan dan diwarisi dengan hormat. Tanpa adab dan sanad, ilmu bisa menjadi petaka, bukan petunjuk


Mantap