Nurdin

Politik untuk Siapa? Ketimpangan Sosial di Balik Gemerlap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Bagikan

Narwala.id – Indonesia kerap dipuji sebagai salah satu negara denganpertumbuhan ekonomi yang relatif stabil di tengahketidakpastian global. Berbagai pembangunan infrastruktur, peningkatan investasi, serta capaian makroekonomi seringdijadikan indikator keberhasilan pemerintah dalam mengelolanegara. Namun, di balik narasi optimistis tersebut, terdapatpertanyaan mendasar yang perlu diajukan: “apakahpertumbuhan ekonomi benar-benar dinikmati oleh seluruhlapisan masyarakat, atau hanya menguntungkan kelompoktertentu?” Pertanyaan ini penting karena keberhasilanpembangunan tidak semata-mata diukur dari angkapertumbuhan ekonomi, melainkan juga dari sejauh mana hasilpembangunan mampu menciptakan keadilan sosial bagiseluruh warga negara. Secara statistik, kondisi kemiskinan di Indonesia memang menunjukkan tren yang membaik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada September 2024 tingkatkemiskinan Indonesia berada pada angka 8,57 persen atausekitar 24,06 juta jiwa, mengalami penurunan dibandingkanperiode sebelumnya. Namun demikian, angka tersebut masihmenunjukkan bahwa puluhan juta warga Indonesia hidupdalam kondisi rentan secara ekonomi. Selain itu, tingkatkemiskinan di wilayah perdesaan masih jauh lebih tinggidibandingkan wilayah perkotaan, yang mengindikasikanbahwa hasil pembangunan belum terdistribusi secara merata. (Badan Pusat Statistik Indonesia) Di sisi lain, persoalan yang lebih kompleks bukan hanyakemiskinan, melainkan ketimpangan sosial. BPS mencatatbahwa rasio gini Indonesia pada Maret 2025 berada pada angka 0,375 dan kemudian menurun menjadi 0,363 pada September 2025. Meskipun menunjukkan perbaikan, angkatersebut masih mengindikasikan adanya kesenjangandistribusi pendapatan dan pengeluaran di masyarakat. Bahkanberdasarkan ukuran Bank Dunia, kelompok 40 persenpenduduk terbawah hanya menikmati sekitar 18-19 persendari total pengeluaran nasional. Artinya, pertumbuhanekonomi yang terjadi belum sepenuhnya menghasilkandistribusi kesejahteraan yang setara. (Badan Pusat StatistikIndonesia) Fenomena ini dapat dijelaskan melalui perspektif konfliksosial dari Karl Marx. Marx berpendapat bahwa dalammasyarakat kapitalis, distribusi sumber daya ekonomicenderung terkonsentrasi pada kelompok yang memilikimodal dan kekuasaan ekonomi, sedangkan kelompok pekerjahanya memperoleh sebagian kecil dari nilai yang merekahasilkan (Marx, 1867). Pada kondisi Indonesia sendiri, teoriini masih relevan untuk menjelaskan bagaimana pertumbuhanekonomi sering kali lebih banyak dinikmati oleh pemilikmodal besar, korporasi, maupun kelompok ekonomi atasdibandingkan masyarakat miskin dan kelas pekerja. Ketika investasi meningkat dan pembangunan berlangsung masif, manfaat ekonomi tidak selalu mengalir secara proporsionalkepada masyarakat yang berada di lapisan bawah. Selain itu, teori stratifikasi sosial dari Max Weber menjelaskan bahwa ketimpangan tidak hanya disebabkan oleh faktor ekonomi, tetapi juga oleh akses yang berbeda terhadapkekuasaan dan status sosial (Weber, 1922). Sedangkan pada realitasnya sendiri di Indonesia, akses terhadap pendidikanberkualitas, pelayanan kesehatan, peluang kerja formal, bahkan akses politik masih sangat dipengaruhi oleh latarbelakang sosial ekonomi seseorang. Akibatnya, masyarakatyang telah berada dalam posisi menguntungkan cenderungmemiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan bahkanmeningkatkan status sosialnya, sementara kelompok miskin menghadapi hambatan struktural untuk keluar dari lingkarankemiskinan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalanketimpangan bukan sekadar masalah ekonomi, melainkanjuga masalah politik. Politik seharusnya menjadi instrumenuntuk menciptakan distribusi sumber daya yang lebih adilmelalui kebijakan publik. Akan tetapi, dalam praktiknya, kebijakan pembangunan sering kali lebih berorientasi pada pertumbuhan dibandingkan pemerataan. Infrastrukturmemang penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi pembangunan fisik tidak akan otomatis menyelesaikanpersoalan ketimpangan apabila tidak diiringi denganpeningkatan kualitas pendidikan, perlindungan tenaga kerja, reformasi agraria, serta perluasan akses ekonomi bagikelompok rentan. Dalam perspektif sosiologi politik, keadaan seperti inidapat dipahami melalui konsep power elite yang dikemukakanoleh C. Wright Mills (1956). Mills menjelaskan bahwakeputusan-keputusan penting dalam masyarakat modern sering kali dipengaruhi oleh kelompok elite yang memilikikekuatan ekonomi, politik, dan birokrasi. Dan padapembangunan di Indonesia sendiri, terdapat kekhawatiranbahwa arah kebijakan lebih banyak ditentukan oleh kepentingan kelompok yang memiliki akses terhadapkekuasaan dibandingkan kebutuhan masyarakat akar rumput. Akibatnya, pembangunan yang seharusnya bersifat inklusifberpotensi menghasilkan ketimpangan baru. Lebih jauh lagi, keberhasilan menurunkan angkakemiskinan tidak boleh membuat pemerintah mengabaikanmunculnya kelompok masyarakat rentan. Banyak keluargayang secara statistik tidak lagi tergolong miskin, tetapi masihsangat rentan terhadap guncangan ekonomi seperti kenaikanharga kebutuhan pokok, pemutusan hubungan kerja, ataukrisis kesehatan….

Polsek Bojong Laksanakan Penanaman Jagung Hibrida, Wujud Nyata Dukungan Polri terhadap Program Ketahanan Pangan Nasional

Bagikan

Narwala.id – Pandeglang – Dalam rangka mendukung program Asta Cita Presiden Republik Indonesia khususnya pada sektor penguatan ketahanan pangan nasional, jajaran Polsek Bojong, Polres Pandeglang melaksanakan kegiatan penanaman jagung hibrida yang berlokasi di Kp. Kadupayung, Desa Mekarsari, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pandeglang, pada Selasa (16/06/2026) mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai tindak…

HCMA dan BPJPH Banten Perkuat Literasi Sertifikasi Halal untuk UMKM dan Masyarakat

Bagikan

Narwala.id – Serang – Halal Center Mathla’ul Anwar (HCMA) bersama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Perwakilan Banten sukses menyelenggarakan kegiatan sosialisasi pentingnya sertifikasi halal bagi pelaku usaha dan masyarakat umum. Kegiatan yang berlangsung di MOS Serang ini bertujuan mempercepat akselerasi program wajib halal sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai sistem Jaminan Produk Halal (JPH). Direktur…

Kasus Hukum Ahmad Mursidi Bergulir, AMIRA dan GWI Nilai Langkah Mutasi Bupati Sudah Tepat

Bagikan

Narwala.id – Pandeglang- Dewan Pengurus Cabang Angkatan Muda Indonesia Raya (AMIRA) dan Dewan Pengurus Cabang Gabungnya Wartawan Indonesia (GWI) Kabupaten Pandeglang menyampaikan Apresiasi kepada Bupati Pandeglang Raden Dewi Setiani yang telah Memutasi Kepala DPMPTSP Pandeglang Ahmad Mursidi yang kini menjabat sebagai Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, untuk mempermudah proses penyidikan, walau sudah…

Dugaan Kekerasan Seksual di UIN SMH Banten Tuai Kecaman dari Pengurus Pusat SEMA PTKIN Se-Indonesia

Bagikan

Narwala.id – Serang – Pengurus Pusat Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PP SEMA PTKIN) Se-Indonesia Perwakilan UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten mengecam keras dugaan kasus kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh seorang demisioner Duta UIN SMH Banten berinisial AAA terhadap sejumlah korban. Perwakilan PP SEMA PTKIN Se-Indonesia UIN SMH Banten, Abdul Wahid…

GEMA MA Banten Kecam Syarat “Tidak Berjilbab” dalam Lowongan Kerja di Kota Serang

Bagikan

Narwala.id – Serang – Publik Banten dihebohkan dengan beredarnya flyer lowongan kerja dari dua perusahaan yang beroperasi di wilayah Kota Serang, yakni PT Jaya Dinasty Indonesia dan PT Cakrawala Jaya Estate. Dalam flyer tersebut, untuk posisi receptionist, perusahaan secara eksplisit mencantumkan salah satu persyaratan pelamar yaitu “tidak berjilbab”. Persyaratan tersebut memicu reaksi keras dari berbagai…

Mahasiswa UIN SMH Banten Gelar Nobar dan Diskusi Publik Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”

Bagikan

Narwala.id – Serang, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FASEI UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten bersama Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI) Komisariat UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dan Dewan Perwakilan Cabang (DPC) PERMAHI sukses menyelenggarakan kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi publik film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, Rabu (20/5/2026), di depan gerbang utama Kampus…

DEMOKRASI MATI DI UIN SMH BANTEN: ALIANSI MAHASISWA RESAH TUNTUT WAREK III MUNDUR DAN LAWAN TIRANI BIROKRASI

Bagikan

Narwala.id – Serang – Gelombang keresahan mahasiswadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten mencapai puncaknya.  Hari ini, Selasa (05/05/26), Aliansi Mahasiswa Resah melakukanaksi pendudukan di Rektorat Kampus 2. Aksi ini merupakanrespons atas tindakan sewenang-wenang birokrasi yang dinilaitelah melakukan “kudeta” terhadap kedaulatan mahasiswa. Membawa rapor merah bertajuk “Kampus DalamCengkraman Krisis Kekuasaan Birokrat”, Aliansimenyoroti tindakan Wakil Rektor III yang dianggap telahmelampaui kewenangannya dengan mengintervensi PemilihanUmum Mahasiswa (PUM) 2026 secara brutal. Mahasiswa mengecam keras pemecatan pengurus KPU-M dan BAWASLU-M yang dilakukan tanpa surat resmi dan dasarhukum yang jelas. Penunjukan pengurus baru secara sepihakoleh birokrasi disebut sebagai cacat konstitusional yang mencederai Undang-Undang Keluarga Besar Mahasiswa(UUKBM). Wahid Kohar, selaku Koordinator Lapangan AliansiMahasiswa Resah, menegaskan bahwa kampus telah berubahmenjadi ruang yang intimidatif dan jauh dari nilai-nilaiakademis.”Kami berdiri di sini karena hukum tertinggimahasiswa, UUKBM, telah diinjak-injak. Penunjukan KPU-M dan BAWASLU-M oleh birokrasi adalah produk ‘anak haram’ yang tidak memiliki legitimasi moral maupun legal. Ini adalah bentuk tirani nyata di dalam institusi pendidikan,” tegasnya dalam orasi di depan Gedung Rektorat. Poin-Poin Gugatan Rakyat Mahasiswa Selain isu demokrasi, Aliansi juga membawa isu kerakyatandan kemanusiaan yang selama ini terabaikan: 1. Copot Wakil Rektor III: Menuntut pertanggungjawabanmoral dan mendesak mundur dari jabatan atas kegaduhandan intervensi yang dilakukan. 2. Bubarkan Lembaga Cacat Hukum: Menolak kerasKPU-M dan BAWASLU-M bentukan birokrasi dan menuntut pengembalian fungsi lembaga sesuai konstitusimahasiswa. 3. Hilangkan UKT Mahal: Menolak UKT mahal dan mendesak transparansi serta keberpihakan bagimahasiswa kurang mampu. 4. Darurat Kekerasan Seksual: Menuntut sistemperlindungan korban yang nyata, mengingat lemahnyapenegakan aturan terhadap pelaku kekerasan seksual di lingkungan kampus. 5. Stop Komersialisasi Pendidikan: Menolak segalakebijakan kampus yang lebih mementingkan profit bisnisdaripada kualitas dan aksesibilitas pendidikan. Aliansi Mahasiswa Resah menyatakan akan tetap bertahandan melakukan eskalasi massa jika tuntutan mereka diabaikanoleh Rektorat. Mereka menuntut pertemuan terbuka agar seluruh civitas akademika dapat melihat bobroknya tata kelolabirokrasi saat ini.

TURUNKAN WAREK III UIN SMH BANTEN ATAU BUBARKAN ANAK HARAM KPU-M DAN BAWASLU

Bagikan

Narwala.id – Kota Serang – Aroma busuk tercium dari balik gedungrektorat UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten. Kampus yang seharusnya menjadi episentrum intelektual dan laboratorium demokrasi kini tengah mengalami krisislegitimasi yang akut. Polemik ini berpusat pada satu titik: dugaan penyalahgunaan wewenang oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama yang dinilai telahmenghancurkan tatanan demokrasi…

Badan Otonom Uji Visi Kandidat Ketua Umum Mathla’ul Anwar

Bagikan

Narwala.id – Kota Serang – Badan otonom Mathla’ul Anwar yang terdiri dari DPP Himpunan Mahasiswa Mathla’ul Anwar (HIMMA), Ikatan Pelajar Mathla’ul Anwar (IPMA), dan Generasi Muda Wati Mathla’ul Anwar (GEMAWATI MA) menyelenggarakan kegiatan bertajuk Open Mic (Adu Gagasan) bagi kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar periode 2026–2031. Kegiatan ini menjadi wadah diskusi terbuka antara…