
LOGO HISBAN’S
Narwala.id- Judul itu sengaja saya ambil dari Motto Himpunan Santri Banten Selatan (HISBAN’S). Karena bagi saya, sudah terlalu lama masyarakat kita dijejali dogma bahwa jika seseorang memiliki nama besar, garis keturunan mulia, atau gelar spiritual tinggi, maka secara otomatis segala ucapannya adalah kebenaran. Seakan-akan kebenaran itu bersumber dari silsilah, bukan dari hujjah, dari popularitas, bukan dari validitas. Padahal ini adalah kekeliruan besar yang merusak akal sehat umat manusia.
Kita tidak boleh menjadikan sosok (tokoh) sebagai ukuran kebenaran. Sebaliknya, sosoklah yang harus diuji dengan kebenaran. Bila seseorang, betapapun agung gelarnya, ternyata menyuarakan kebatilan, maka tetap harus ditolak. Sebaliknya, meskipun ia bukan keturunan nabi, bukan ulama karismatik, atau bukan pemuka tarekat yang terkenal, jika ia menyuarakan kebenaran yang ilmiah, jujur, dan tulus, maka ia layak didengar dan dihargai.
Inilah penyakit laten masyarakat kita yaitu taqlid buta terhadap sosok. Tak sedikit yang membela tokoh karena nama, bukan karena kebenaran. Bahkan, ada yang menutup mata dari keburukan dan penyimpangan, hanya karena “itu guru kami,” “itu habaib,” atau “itu kiai kami.” Kebenaran dijadikan tawanan loyalitas, bukan cahaya yang menerangi jalan.
Nabi Muhammad SAW yang agung saja tidak pernah mengajarkan bahwa kebenaran hanya boleh dibawa oleh keturunannya? Apakah para sahabat hanya memvalidasi perkataan seseorang berdasarkan marga atau silsilahnya? Tidak. Mereka menilai dengan ilmu, bukan dengan identitas.
Kebenaran tidak kenal trah. Tidak kenal kasta. Tidak kenal fanatisme. Ia berdiri sendiri, kokoh dengan dalil, logika, dan kejujuran. Jika kita terus mengukur kebenaran dengan sosok, maka akan lahir generasi yang lebih mengagungkan nama ketimbang nurani, lebih mengejar fanatisme ketimbang fakta, dan lebih rela dibodohi oleh simbol ketimbang tercerahkan oleh ilmu.
Mari kita balikkan cara berpikir. Mari kita ukur semua sosok, seagung apapun, dengan standar kebenaran. Bila benar, kita ikuti. Bila salah, kita luruskan atau kita tinggalkan. Karena kebenaran tidak butuh jubah, tidak butuh marga, tidak butuh keturunan siapa. Ia hanya butuh orang-orang yang berani mengikutinya, meski tanpa nama besar.

