
narwala.id- Di tanah yang konon disebut sebagai negeri mayoritas Muslim terbesar ini, agama kadang tidak lagi ditimbang dari akal, ilmu, dan akhlak, tapi dari garis keturunan. Dan ini bukan sekadar gurauan warung kopi, ini serius. Ini tentang bagaimana umat Islam di Indonesia sedang digiring pelan-pelan ke dalam jebakan feodalisme rohani versi modern.
Kita bicara soal dua kubu yang kini sedang bersilang pandangan yaitu Kubu Ba’alawi vs PWI LS.
Kelompok Ba’alawi, yang masuk ke Indonesia sekitar abad ke-17, berasal dari Hadramaut, Yaman, mengklaim sebagai dzurriyyah Nabi Muhammad SAW. Mereka datang membawa syiar Islam, dan disambut oleh masyarakat Nusantara dengan penuh penghormatan. Kenapa? Karena mereka diakui dan mengaku sebagai keturunan Nabi.
Tak bisa dibantah, penghormatan terhadap mereka luar biasa. Mereka dinobatkan sebagai habaib, diundang dalam setiap acara keagamaan, dimuliakan bahkan oleh para penguasa. Satu klaim yang jadi kunci utama adalah karena mereka masih berdarah Rasulullah.
Tapi sejak munculnya tesis kontroversial, yang menyatakan bahwa ada indikasi terputusnya nasab Ba’alawi, suasana mulai berubah. Klaim yang selama ini dianggap mutlak, mulai dipertanyakan. Sebagian masyarakat mulai sadar bahwa jangan-jangan selama ini kita terlalu larut menyembah silsilah?
Dari perdebatan itulah muncul satu reaksi, mereka menamakan diri sebagai PWI LS (Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah). Sebuah organisasi yang secara eksplisit menolak dominasi Ba’alawi dan berusaha meneguhkan identitas Islam pribumi, yang konon mengakar pada ajaran Walisongo. Mereka berdiri setelah Kongres I tahun 2023, dan meresmikan AD/ART pada 22 Desember 2024.
Tapi alih-alih melawan klaim keturunan dengan akal sehat dan ilmu, PWI LS justru menyerang dan menolak darah Arab dengan darah Jawa. Mereka membanggakan silsilah trah Walisongo juga, menyatakan diri sebagai pewaris sah perjuangan Islam di Nusantara, bahkan menjadikan dzurriyyah Wali sebagai identitas agung.
Inilah ironi besar. Yang awalnya menolak Ba’alawi karena menjual nasab, kini ikut-ikutan menjual nasab versi lokal. Dua-duanya terjebak dalam perang darah. Yang satu menjual kemurnian nasab Nabi dari luar negeri, yang satu mengagungkan kesaktian trah wali dari dalam negeri. Tapi esensinya sama yaitu nasab yang diperdagangkan, ilmu yang seolah ditinggalkan (Walaupun banyak juga orang yang berilmu dari kedua kubu itu).
Lalu pertanyaan saya, akan diletakan dimana posisi ulama-ulama muda yang cerdas tapi tak punya garis biru?
Di mana posisi dai yang ikhlas, yang hidup dari mengajar ngaji di kampung, tapi tak bisa menyebutkan 20 nama leluhurnya ke belakang?
Mereka suatu saat akan tersingkir secara sosial dan kultural. Mereka akan kehilangan forum besar di podium, karena sebab alasan nasab tadi itu. Bahkan nantinya, bisa dianggap lancang kalau berani menyampaikan kebenaran yang berbeda dengan darah istimewa.
Islam yang dulu membebaskan budak, mengangkat Bilal dari bawah ke atas, kini malah dibajak oleh mereka para penjaga trah. Bukan karena ilmunya tinggi saja, tapi karena silsilahnya panjang.
Kita sedang menyaksikan lahirnya feodalisme spiritual. Di satu sisi, Ba’alawi mempertahankan supremasi Arab dengan klaim nasab ke Nabi. Di sisi lain, PWI LS membangun kekuasaan moral dengan klaim trah Walisongo
Dua-duanya sama-sama mengagungkan asal usul, bukan hasil perjuangan. Sama-sama bicara soal darah, bukan isi kepala.
Lucunya, perdebatan mereka juga makin menjauh dari realitas umat. Saat masyarakat sedang sibuk mencari lapangan pekerjaan untuk makan, melawan mahalnya pendidikan, dan mencari kejelasan arah hidup, kedua kubu ini sibuk berdebat soal siapa moyangnya paling suci.
Bagi saya, mereka bukan lagi pejuang dakwah kalua hanya mengandalkan nasab. Mereka hanya manajer silsilah.
Yang satu menjaga museum darah Nabi, yang lain membuka pameran darah Walisongo.
Padahal, Islam tidak sedang kekurangan keturunan Nabi atau wali.
Islam kekurangan orang jujur, berani, dan berpikir jernih.
Jika dua kelompok ini terus menjadikan nasab sebagai alat kuasa, maka tunggulah kehancuran peradaban keilmuan umat Islam di Indonesia. Sebab ilmu tak akan tumbuh di tanah yang disiram air kekerabatan. Ia tumbuh di ladang keikhlasan dan perjuangan.
Umat Islam harus berhenti terpesona oleh darah suci, dan mulai menilai orang dari ilmunya, akhlaknya, pikirannya, dan perjuangannya (siapapun orangnya).
Kalau tidak, maka akan lahir generasi yang lebih sibuk menghafal silsilah ketimbang menghafal Al-Qur’an dan mengkaji kitab-kitab klasik.
Bagi saya, cukuplah Islam disandera oleh perang darah zaman lampau.
Sudah saatnya akal sehat mengambil alih mimbar.
Karena kebenaran dan keilmuan tidak diturunkan lewat nasab, tapi dicari, diperjuangkan, dan dibela.
Aceng Murtado (Penulis adalah orang yang tidak punya nasab Mulia seperti mereka)
BANTEN, 22-07-2025

