
Dalam banyak hubungan hari ini, katakanlah pacaran maupun sudah menikah sekali pun ada kebiasaan yang seolah dianggap wajar padahal sangat tidak wajar, pasangan harus selalu tahu aktivitas kita. Mulai dari bangun tidur, berangkat kerja, makan siang, nongkrong dengan teman, bahkan sampai hal kecil seperti buang air pun nyaris harus dilaporkan. Seolah-olah cinta berarti laporan 24 jam.
Banyak laki-laki diam-diam mengeluh, meski jarang mengucapkannya. Mereka merasa hubungan yang seharusnya menjadi ruang nyaman justru berubah menjadi jeruji yang membatasi. Bagaimana tidak? Setiap menit harus menjelaskan posisi, setiap jam harus memberi kabar, setiap aktivitas harus disertai dokumentasi. Hidup jadi mirip reality show tanpa kamera, tapi dengan pasangan sebagai pengawas tunggal.
Di sisi lain, banyak perempuan merasa bahwa sikap ingin diperhatikan setiap waktu adalah bentuk kasih sayang yang pantas mereka terima. Mereka ingin istimewa, ingin selalu jadi pusat perhatian, ingin tahu detail kehidupan pasangannya. Tapi di sinilah masalahnya, perhatian berlebihan yang dipaksakan justru melahirkan rasa terkekang. Hubungan yang tadinya diharapkan membawa kebahagiaan malah menumbuhkan kegelisahan dan rasa tidak bebas.
Harus diakui, cinta tanpa kepercayaan hanya akan menjelma menjadi penjara yang indah. Pasangan mungkin tidak menyadari, tetapi kewajiban memberi kabar setiap detik itu membuat hubungan kehilangan esensinya. Cinta tidak lagi soal saling percaya, melainkan soal siapa yang paling rajin mengawasi dan siapa yang paling patuh memberi laporan.
Padahal, manusia, baik laki-laki maupun perempuan tetaplah individu yang butuh ruang. Tidak ada orang yang betah hidup di bawah pengawasan terus-menerus, bahkan terhadap orang yang ia cintai sekalipun. Laki-laki, pada khususnya, seringkali membutuhkan waktu untuk sendiri, diam, menyendiri, menikmati sebatang rokok+kopi (walaupun beli ketengan) atau sekadar menarik napas dari rutinitas biasa. Itu bukan tanda tidak sayang, melainkan cara menjaga kewarasan.
Mungkin sudah saatnya hubungan dipahami ulang. Bahwa perhatian itu penting, tapi bukan berarti mengekang. Bahwa keintiman itu indah, tapi harus diimbangi dengan privasi. Bahwa cinta itu bukan pengawasan, melainkan kepercayaan.
Jika cinta terus dipaksa jadi penjara, maka cepat atau lambat, penghuninya akan mencari jalan keluar.
di tulis di Kp. Nambo Desa Cikeusik, Kecamatan Wanasalam, Kab. Lebak Banten, pada 21 Agustus 2025

