
Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-80 di Wanasalam, Tepatnya di Desa Cipeucang Kec. Wanasalam Lebak-Banten, berlangsung meriah. Ratusan bahkan katanya satu ribu lebih masyarakat tumpah ruah, mengikuti kegiatan gogo ikan dan nyair yang digagas oleh salah satu Anggota DPRD Provinsi Banten. Tidak tanggung-tanggung, acara ini pun dihadiri jajaran Polres Lebak dan Bupati Lebak, Hasbi Jayabaya. Dari sisi perayaan, tentu ini tampak sebagai sebuah momentum kebersamaan rakyat dan pemimpinnya.
Namun, di balik riuh tawa, sorak sorai, dan hadiah yang menggiurkan, bahkan hingga paket umrah yang menurut informasi sudah didapatkan oleh warga Desa Cikeusik, Alhamdulillah. Bagi saya ini adalah paradoks yang perlu dibaca, dikaji dan diteliti dengan kacamata kritis. Sebagai masyarakat biasa yang Alhamdulillah juga pernah mengenyam pendidikan dalam disiplin studi Islam interdisipliner, saya melihat setidaknya dua wajah dari acara ini, yang pertama saya melihat Wajah Kegembiraan dan kedua adalah wajah eksploitasi.
Wajah Pertama. Tidak bisa dipungkiri, kehadiran ratusan bahkan katanya satu ribu orang lebih yang datang dengan antusias menunjukkan satu hal yaitu rakyat membutuhkan ruang kegembiraan. Di tengah problematika sosial-ekonomi yang mencekik, pesta rakyat seperti nyair dan gogo ikan menjadi hiburan murah meriah, bahkan bergengsi, karena dihadiri pejabat publik.
Dalam tradisi Islam, menyenangkan hati umat merupakan anjuran mulia. Pemimpin pada hakikatnya adalah khadim al-ummah (abdi masyarakat), sekali lagi saya tegaskan ABDI MASYARAKAT yang tentunya dituntut untuk menghadirkan kemaslahatan. Hadiah umrah yang diberikan pada satu peserta bahkan bisa dipandang sebagai bentuk penghargaan simbolis bahwa rakyat bukan sekadar penonton, tetapi juga penerima manfaat, Alhamdulillah. Dari kacamata ini, perayaan HUT RI ke-80 di Kec. Wanasalam ini terasa sebagai ruang rekreasi sosial yang menyatukan rakyat dengan elitnya (Abdi masyarakat-nya).
Wajah Kedua, mari kita tidak menutup mata, karena di pesta rakyat ini juga sarat dengan aroma eksploitasi. Bagaimana tidak? Para pejabat hadir dengan seremonial penuh, seolah meneguhkan eksistensi politik mereka di hadapan rakyat yang begitu mudah dikerahkan dalam euforia massal. Ratusan bahkan satu ribu lebih orang itu yang berdesakan, berpeluh, dan bergembira, pada akhirnya menjadi latar teatrikal bagi para pemimpin untuk meneguhkan citra diri sebagai pemimpin yang merakyat.
Di sini, terjadi apa yang oleh sosiolog politik disebut sebagai politics of spectacle, yaitu kalo dalam bahasa kita disebut sebagai politik pertunjukan. Maka artinya, hiburan massal ini bukan lagi sekadar hiburan, melainkan instrumen legitimasi kekuasaan. Hadiah-hadiah, panggung rakyat, bahkan kedekatan simbolis dengan masyarakat, sejatinya merupakan modal politik yang sedang ditanam untuk kepentingan elektoral di kemudian hari, bahkan ada dalam Video yang saya lihat ada Sebuah doa yang dipanjatkan untuk BPK Hasbi (Selaku Bupati Lebak saat ini) agar bisa menjabat dua periode, nah pernyataan seperti ini yang saya maksud sebagai politik pertunjukan.
Dalam perspektif etika Islam, tindakan seperti ini berbahaya. Pemimpin yang sejatinya adalah abdi masyarakat justru memanfaatkan massa untuk meneguhkan kuasa. Alih-alih menjadi ruang pembebasan rakyat, pesta rakyat malah bisa menjadi ruang eksploitasi, di mana keriangan rakyat ditunggangi demi kepentingan elit. Inilah bentuk eksploitasi kegembiraan, rakyat dibuat larut dalam kesenangan sesaat, tetapi tetap terbelenggu dalam realitas struktural yang timpang.
Maka, perayaan semacam ini perlu kita baca dengan hati-hati. Tidak cukup hanya terhanyut dalam suka cita, tetapi juga harus jeli melihat kepentingan yang tersembunyi. Rakyat berhak bahagia, namun kebahagiaan itu jangan sampai dibarter dengan manipulasi politik yang menyelundup di balik panggung hiburan.
Islam mengajarkan pemimpin untuk adl (adil) dan amanah. Adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya, bukan memanfaatkan rakyat sebagai alat politik. Amanah berarti menjaga kepercayaan publik, bukan memperalat kepercayaan itu demi keuntungan elektoral.
Dengan demikian, pesta rakyat Wanasalam dapat kita pahami sebagai sebuah perayaan yang ambigu, kenapa bisa seperti itu? karena di satu sisi menghibur, dan di sisi lain mengandung jebakan. Di sinilah perlunya kesadaran kritis masyarakat, terutama kalangan terpelajar seperti Mahasiswa dan Santri agar tidak mudah terpesona oleh panggung megah yang sejatinya bisa menyamarkan wajah asli kekuasaan.
di tulis di Wanasalam Lebak-Banten
pada Senin 18 Agustus 2025

