Kerajaan Pajajaran: Jejak Terakhir Kejayaan Sunda di Tanah Parahyangan

Bagikan

Sejarah tidak selalu ditulis oleh para penakluk. Kadang, ia dikenang lewat nyanyian, sisa reruntuhan, dan cerita yang dibisikkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di Tanah Sunda, salah satu cerita paling agung adalah tentang Kerajaan Pajajaran kerajaan besar yang pernah berdiri kokoh di jantung Parahyangan, dan kini hidup dalam ingatan, bukan dalam istana.

Pajajaran adalah puncak peradaban Sunda sebelum akhirnya tertelan zaman dan kekuasaan yang datang dari timur dan barat. Di sinilah Prabu Siliwangi, raja agung yang melegenda, memimpin rakyatnya dengan kebijaksanaan, spiritualitas, dan cinta pada alam.

Awal Mula Pajajaran: Lahir dari Sungai dan Gunung

Kerajaan Pajajaran berdiri sekitar abad ke-14 hingga ke-16, berpusat di Pakuan (Bogor sekarang). Ia merupakan kelanjutan dari kerajaan-kerajaan Sunda sebelumnya, seperti Tarumanagara dan Galuh. Dalam naskah Wangsakerta dan prasasti Batutulis, Pajajaran disebut sebagai pusat kekuasaan Sunda yang makmur dan damai.

Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh Jawa Barat modern: dari Banten hingga Galuh (Ciamis). Ibukotanya, Pakuan Pajajaran, terletak di dataran tinggi yang dikelilingi hutan dan Sungai sebuah simbol keseimbangan antara kekuasaan dan alam.

Sri Baduga Maharaja: Sang Prabu Siliwangi

Tokoh paling terkenal dalam sejarah Pajajaran adalah Sri Baduga Maharaja, yang dikenal luas sebagai Prabu Siliwangi. Ia memerintah sekitar tahun 1482 dan dikenang sebagai pemimpin yang adil, cerdas, dan visioner.

Di bawah kepemimpinannya, Pajajaran mencapai puncak kejayaan seperti melarang perbudakan, menguatkan tata hukum Kerajaan dan menjaga hubungan damai dengan kerajaan-kerajaan tetangga

Prabu Siliwangi juga dikenal karena keterbukaannya pada berbagai ajaran spiritual. Meski menghayati ajaran Sunda Wiwitan, ia menikah dengan Dewi Subang Larang, seorang muslimah, dan membiarkan anak-anak mereka memilih jalan hidup masing-masing. Sikap ini menunjukkan semangat toleransi dan kebijaksanaan, yang sangat relevan hingga hari ini.

Pakuan: Ibukota yang Hilang

Pakuan bukan hanya pusat pemerintahan, tapi juga pusat kebudayaan. Sayangnya, setelah Pajajaran runtuh, kota ini hilang ditelan hutan selama ratusan tahun, sampai akhirnya ditemukan kembali oleh Stamford Raffles pada abad ke-19.

Hari ini, jejak kota Pakuan bisa kita lihat di situs Prasasti Batutulis sebuah batu bertulis aksara Sunda Kuno, yang jadi saksi bisu kemegahan masa lalu. Sisa-sisa jalan, saluran air, dan kompleks keraton membuktikan bahwa Pajajaran adalah kerajaan maju, bukan hanya secara politik, tapi juga peradaban.

Runtuhnya Pajajaran: Serangan dari Cirebon dan Banten

Pajajaran mulai melemah pada awal abad ke-16, saat muncul kekuatan baru dari timur: Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten. Keduanya adalah kerajaan Islam yang dipimpin oleh anak-anak Prabu Siliwangi dari Subang Larang, seperti Raden Walangsungsang dan cucunya, Sunan Gunung Jati.

Runtuhnya Pajajaran tidak semata karena perang, tapi juga karena perubahan zaman dan pergeseran budaya. Islam yang mulai meluas ke wilayah Sunda membuat struktur kerajaan lama kehilangan legitimasinya. Pada tahun 1579, Pajajaran resmi runtuh setelah diserbu oleh pasukan Banten. Dari sinilah, kerajaan Hindu-Buddha terakhir di Tatar Sunda benar-benar berakhir.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments