Raden Walangsungsang: Anak Raja yang Menjadi Pendiri Kesultanan Cirebon

Bagikan

Sejarah besar tidak selalu diwariskan lewat takhta. Kadang, ia datang dari keberanian untuk memilih jalan sendiri seperti yang dilakukan oleh Raden Walangsungsang, putra sulung Prabu Siliwangi dan Subang Larang. Lahir dari dua dunia yang berbeda kerajaan Hindu-Sunda dan ajaran Islam. Walangsungsang tumbuh menjadi pribadi yang tak hanya mewarisi darah bangsawan, tetapi juga semangat perubahan zaman. Namanya mungkin tidak sepopuler ayahandanya, Prabu Siliwangi, tapi tanpa Walangsungsang, Cirebon takkan pernah berdiri seperti sekarang.

Lahir dari Dua Dunia: Anak Prabu dan Subang Larang

Raden Walangsungsang lahir dari pernikahan Prabu Siliwangi dengan Dewi Subang Larang, seorang perempuan muslim yang merupakan putri dari Ki Gedeng Tapa, tokoh ulama dan penguasa daerah Singapura (kini wilayah Cirebon). Subang Larang sejak muda sudah memeluk agama Islam dan belajar pada Syekh Quro, ulama dari Champa.

Meski Prabu Siliwangi dikenal sangat toleran, ia tetap menjalankan kepercayaan Sunda Wiwitan, dan menginginkan keturunannya menjaga ajaran leluhur. Di sinilah terjadi persimpangan jalan: Walangsungsang lebih tertarik mengikuti keyakinan ibunya.

Pilihan itu membuatnya tidak berhak atas takhta Pajajaran, karena kerajaan saat itu masih berbasis pada nilai-nilai Hindu-Buddha dan adat Sunda klasik. Tapi penolakan ini justru menjadi awal kisah besar.

Pengembaraan Spiritual: Berguru ke Gunung Jati

Setelah dewasa, Walangsungsang meninggalkan istana Pajajaran. Bersama adiknya Rara Santang, ia melakukan pengembaraan dan berguru pada Syekh Datuk Kahfi di Gunung Jati, Cirebon. Dari sang syekh, ia tidak hanya belajar agama Islam, tapi juga ilmu pemerintahan, diplomasi, dan spiritualitas yang mendalam.

Dari perjalanan inilah tumbuh semangat untuk mendirikan pemukiman baru yang berlandaskan ajaran Islam, tetapi tetap berakar pada budaya lokal Sunda.

Mendirikan Cirebon: Dari Dukuh Pesambangan ke Kesultanan

Sekitar tahun 1430-an, Walangsungsang mendirikan sebuah pemukiman kecil di pesisir utara Jawa, dekat pelabuhan nelayan. Wilayah itu dulunya rawa-rawa dan banyak ditumbuhi rebon (udang kecil), sehingga dinamakan Cirebon (Ci = air, Rebon = udang).

Bersama tokoh lokal seperti Ki Gedeng Alang-Alang dan Pangeran Panjunan, ia membangun daerah ini menjadi pusat perdagangan, pertanian, dan penyebaran Islam. Walangsungsang kemudian diberi gelar Pangeran Cakrabuana dan diangkat sebagai penguasa lokal yang dihormati.

Penting dicatat, saat itu ia belum menyebut dirinya “sultan” karena sebagai murid, ia menyerahkan posisi itu kepada Sunan Gunung Jati, anak dari Rara Santang yang menjadi ulama besar dan Wali Songo.

Dari Bangsawan ke Tokoh Umat

Keputusan Walangsungsang untuk tidak merebut kekuasaan Pajajaran, dan memilih mendirikan kota baru yang plural dan terbuka, menunjukkan kebijaksanaan luar biasa. Ia mengawinkan ajaran Islam dengan budaya Sunda, menciptakan kehidupan sosial yang damai dan toleran.

Pemerintahannya dikenal dengan sistem musyawarah dan kepemimpinan kolektif, penghargaan terhadap tradisi leluhur, penyebaran Islam yang damai, melalui perdagangan dan dakwah santun dan pembukaan jalur dagang antara pedalaman Sunda dan dunia luar

Warisan yang Panjang: Cirebon dan Nilai yang Abadi

Meski Cirebon kelak menjadi kesultanan Islam besar di bawah Sunan Gunung Jati, pondasi sosial dan politiknya dibangun oleh Raden Walangsungsang. Ia bukan hanya pendiri kota, tetapi juga arsitek nilai-nilai sosial yang masih bisa dirasakan hingga kini di tanah Cirebon.

Cirebon tumbuh menjadi pusat kebudayaan hybrid di mana Islam, Sunda, Jawa, bahkan Tionghoa dan Arab menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Warisan Walangsungsang hidup dalam keraton, batik, seni, bahasa, dan sistem sosial masyarakat Cirebon.

Pangeran yang Menolak Tahta, Tapi Membangun Sejarah

Raden Walangsungsang bukan raja dalam arti formal, tapi ia adalah pemimpin sejati. Ia memilih tidak menjadi penerus istana Pajajaran, tapi mendirikan sesuatu yang baru dan abadi. Ia bukan raja yang memerintah dari istana tinggi, melainkan tokoh yang hidup bersama rakyat, membangun kota, dan menebar ilmu serta nilai spiritual.

Hari ini, nama Pangeran Cakrabuana diabadikan dalam nama jalan, masjid, hingga museum. Tapi lebih dari itu, ia hidup dalam semangat pluralisme, toleransi, dan kearifan lokal yang menjadi akar dari budaya Cirebon.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments