Mathla’ul Anwar: Cahaya Pendidikan Islam dari Tanah Banten

Bagikan

Oleh: Repi Rizali (Peneliti Badan Riset dan Inovasi Mathla’ul Anwar / BRIMA)

narwala.id – Dalam sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia, peran organisasi kemasyarakatan berbasis keagamaan tidak dapat dikesampingkan. Salah satu organisasi yang memiliki kontribusi signifikan dalam bidang pendidikan, sosial, dan dakwah adalah Mathla’ul Anwar. Didirikan pada tahun 1916 di Menes, Banten, organisasi ini lahir dari sebuah kesadaran kolektif ulama terhadap krisis multidimensional yang melanda masyarakat pasca-runtuhnya Kesultanan Banten dan dalam bayang-bayang penjajahan kolonial Belanda.

Secara historis, berdirinya Mathla’ul Anwar tidak dapat dilepaskan dari realitas sosial masyarakat Banten kala itu. Setelah kekuasaan tradisional Islam dalam bentuk kesultanan dihancurkan oleh kolonialisme pada awal abad ke-19, masyarakat mengalami disorganisasi sosial yang akut. Penjajahan tidak hanya merampas kedaulatan politik, tetapi juga mengganggu struktur sosial, ekonomi, dan budaya lokal. Sistem pajak yang eksploitatif, mobilisasi tenaga kerja paksa, serta marginalisasi pendidikan rakyat menjadi bagian dari kebijakan kolonial yang secara sistematis menciptakan keterbelakangan.

Sebagai respons terhadap realitas tersebut, sejumlah ulama di wilayah Banten seperti K.H.E. Moh. Yasin, K.H. Tb. Moh. Sholeh, Kyai H. Mas Abdurrahman dan tokoh-tokoh lainnya, merumuskan strategi kultural untuk melawan hegemoni kolonialisme dengan mendirikan institusi pendidikan Islam yang terorganisir. Mereka memandang bahwa jalan pendidikan adalah instrumen utama dalam membebaskan umat dari keterpurukan struktural dan kebodohan sistemik. Maka lahirlah Mathla’ul Anwar, yang secara etimologis bermakna “tempat terbitnya cahaya”, sebagai simbol perjuangan intelektual dan spiritual.

Pada konteks ini, pendirian Mathla’ul Anwar dapat dikaji sebagai bagian dari gelombang Islamic revitalization movements yang tumbuh di Nusantara pada awal abad ke-20, bersamaan dengan munculnya organisasi seperti Syarikat Islam, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama. Berbeda dengan beberapa organisasi lainnya yang muncul di kota besar, Mathla’ul Anwar tumbuh dari kawasan pedesaan, dan menjadikan pendidikan sebagai jantung gerakan dakwah dan sosialnya. Hal ini menunjukkan adanya pola grassroots movement yang menjadikan desa bukan hanya sebagai objek, tetapi juga sebagai subjek perubahan.

Secara kelembagaan, Mathla’ul Anwar sejak awal memperlihatkan struktur organisasi yang inklusif, kolektif, dan berbasis jamaah. Model pengelolaan madrasah yang kolaboratif antar ulama menunjukkan adanya orientasi sosial yang kuat dan menempatkan pendidikan sebagai arena transformasi masyarakat. Kurikulum yang diajarkan tidak hanya meliputi ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga membentuk akhlak, karakter, dan kesadaran sosial-politik peserta didik.

Perjalanan sejarah Mathla’ul Anwar tidak selalu mulus. Sejumlah tantangan internal dan eksternal sempat menguji soliditas organisasi ini, terutama pada masa transisi politik nasional maupun dalam dinamika internal organisasi. Namun yang menarik, setiap tantangan tersebut justru direspons dengan evaluasi struktural dan peneguhan kembali komitmen ideologis organisasi. Penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal organisasi pada Muktamar XIV merupakan contoh bagaimana Mathla’ul Anwar mampu merespons konteks kebangsaan tanpa kehilangan identitas keagamaannya.

Hingga kini, peran Mathla’ul Anwar tetap relevan. Melalui lembaga-lembaga pendidikan formal dan non-formal, dari madrasah hingga perguruan tinggi, organisasi ini terus menjadi pelaku utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak hanya di Banten, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia. Dalam tataran wacana, Mathla’ul Anwar aktif menyuarakan isu-isu keummatan dan kebangsaan, seperti penolakan terhadap radikalisme, pentingnya moderasi beragama, perlindungan terhadap pendidikan pesantren, dan solidaritas untuk umat Islam global.

Relevansi Mathla’ul Anwar hari ini tidak terletak pada usianya yang telah melewati satu abad, melainkan pada kemampuannya menjaga kontinuitas nilai dan transformasi visi. Mathla’ul Anwar menunjukkan bahwa gerakan keagamaan tidak harus bersifat stagnan dan konservatif, melainkan mampu menjadi lokomotif perubahan sosial yang dinamis, berorientasi pada keilmuan, dan terbuka terhadap kemajuan.
Dalam perspektif sosiologi agama, Mathla’ul Anwar menjadi contoh konkrit bagaimana agama dapat dijadikan sebagai alat transformasi sosial (religion as an agent of social change), bukan sekadar instrumen pelestarian tradisi. Dengan semangat “min al-zhulumāti ilā al-nūr” (dari kegelapan menuju cahaya), Mathla’ul Anwar terus menghidupkan optimisme bahwa Islam sebagai nilai, ajaran, dan gerakan, mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan zaman.

Mathla’ul Anwar adalah organisasi tua, tetapi ia terus muda oleh semangatnya. Sebab ia tidak berhenti pada nostalgia sejarah, tetapi berjalan bersama realitas dan menjawab tantangan zaman dengan ilmu, amal, dan keberanian intelektual.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments