Tokoh Muda Pandeglang Sebut MBG Solusi Gizi dan Penggerak Ekonomi Lokal

Bagikan

PANDEGLANG – Dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pandeglang datang dari tokoh muda Pandeglang, Ahmad Syafaat, yang menilai program tersebut harus dipandang sebagai investasi strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, bukan sekadar kebijakan sosial yang bersifat jangka pendek.

Dalam keterangannya kepada awak media, Ahmad Syafaat mengatakan bahwa keberhasilan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas generasi mudanya.

Karena itu, pemenuhan kebutuhan gizi anak menjadi salah satu fondasi utama yang harus mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Menurutnya, berbagai negara maju telah membuktikan bahwa investasi pada kesehatan dan gizi anak mampu memberikan dampak besar terhadap peningkatan kualitas pendidikan, produktivitas tenaga kerja, hingga daya saing bangsa di masa depan.

“MBG jangan dipahami hanya sebagai program makan gratis. Ini adalah investasi peradaban. Ketika negara hadir memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik, sesungguhnya negara sedang menyiapkan masa depan bangsa,” ujar Syafaat, Senin (15 Juni 2026).

Ia menjelaskan, anak-anak yang mendapatkan asupan gizi yang cukup cenderung memiliki kemampuan konsentrasi yang lebih baik saat belajar, daya tahan tubuh yang lebih kuat terhadap penyakit, serta perkembangan fisik dan mental yang lebih optimal.

Kondisi tersebut tentunya akan berpengaruh langsung terhadap kualitas pendidikan dan produktivitas mereka ketika memasuki usia kerja.

Syafaat menilai Program MBG memiliki landasan ilmiah yang kuat. Dalam perspektif Human Capital Theory yang dikemukakan ekonom Theodore Schultz, pengeluaran negara untuk sektor kesehatan dan gizi tidak dapat dipandang sebagai beban anggaran semata.

Sebaliknya, pengeluaran tersebut merupakan investasi yang akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) unggul yang mampu berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi di masa depan.

Selain itu, ia juga mengaitkan pentingnya pemenuhan gizi dengan teori kebutuhan manusia yang dikembangkan oleh Abraham Maslow.

Dalam teori tersebut, kebutuhan fisiologis seperti pangan, minuman, dan kesehatan merupakan kebutuhan dasar yang harus terpenuhi terlebih dahulu sebelum seseorang mampu mencapai potensi terbaiknya dalam bidang pendidikan, sosial, maupun ekonomi.

“Kebutuhan gizi merupakan fondasi utama. Jika kebutuhan dasar anak-anak belum terpenuhi, maka akan sulit bagi mereka untuk berkembang secara optimal dalam proses pendidikan maupun kehidupan sosialnya,” jelasnya.

Bagi Kabupaten Pandeglang yang masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan, terutama terkait kemiskinan dan ketimpangan akses terhadap pangan bergizi, Program MBG dinilai memiliki peran strategis dalam mengurangi kesenjangan sosial.

Menurut Syafaat, masih banyak keluarga yang menghadapi keterbatasan ekonomi sehingga belum mampu menyediakan makanan bergizi secara konsisten bagi anak-anak mereka.

Kehadiran program MBG dapat membantu memastikan setiap anak memperoleh akses terhadap makanan sehat tanpa memandang latar belakang ekonomi keluarganya.

“Sulit berharap anak-anak mampu menyerap pelajaran dengan baik jika mereka datang ke sekolah dalam kondisi lapar. Karena itu, pemenuhan gizi harus menjadi bagian dari strategi pembangunan pendidikan,” katanya.

Ia menambahkan, hubungan antara gizi dan pendidikan tidak dapat dipisahkan. Anak yang lapar atau mengalami kekurangan gizi berpotensi mengalami penurunan konsentrasi, mudah lelah, hingga menurunnya motivasi belajar. Tapi sebaliknya kata Syafaat, anak yang mendapatkan asupan gizi yang cukup akan lebih siap mengikuti proses pembelajaran di sekolah.

Meski memberikan dukungan penuh terhadap Program MBG, Syafaat mengingatkan bahwa keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran yang dialokasikan pemerintah. Ia menilai kualitas pelaksanaan di lapangan menjadi faktor yang sangat menentukan.

Oleh karena itu, ia mendorong adanya sistem evaluasi yang berkelanjutan, transparansi penggunaan anggaran, serta keterlibatan masyarakat dalam melakukan pengawasan.Langkah tersebut diperlukan agar program benar-benar tepat sasaran dan memberikan manfaat maksimal kepada para penerima.

“Program yang baik harus dibarengi dengan pengawasan yang baik pula. Transparansi dan evaluasi berkala penting agar manfaat MBG benar-benar dirasakan oleh anak-anak yang membutuhkan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Syafaat menilai Program MBG juga memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal apabila dikelola dengan melibatkan berbagai sektor masyarakat.

Ia berharap kebutuhan bahan pangan dalam program tersebut dapat dipenuhi oleh petani, nelayan, peternak, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang ada di Kabupaten Pandeglang.

Dengan pola tersebut, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh para siswa penerima makanan bergizi, tetapi juga mampu menciptakan perputaran ekonomi yang lebih luas di tingkat daerah.

“Jika dikelola dengan baik, MBG bukan hanya meningkatkan gizi anak-anak, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat. Program ini dapat menjadi ruang kolaborasi antara sekolah, pemerintah, petani, nelayan, dan UMKM lokal,” ungkapnya.

Menurutnya, keterlibatan pelaku usaha lokal akan menciptakan efek berganda atau multiplier effect yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkuat ketahanan pangan daerah, serta membuka peluang usaha baru bagi warga.

Di akhir pernyataannya, Syafaat mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendukung sekaligus mengawal pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis secara konstruktif.

Ia menekankan bahwa kritik dan masukan tetap diperlukan sebagai bagian dari proses perbaikan, namun dukungan dari seluruh pihak juga sangat penting agar tujuan program dapat tercapai.

“Mari kita jadikan MBG sebagai gerakan bersama. Kritik diperlukan untuk perbaikan, tetapi dukungan dan pengawalan jauh lebih penting. Sebab, membangun Pandeglang yang maju dimulai dari memastikan anak-anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing,” pungkasnya.

Menurut Syafaat, keberhasilan pembangunan daerah pada akhirnya sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Karena itu, investasi pada sektor gizi dan kesehatan anak harus menjadi prioritas bersama.

“Gizi yang baik bukan hanya mengenyangkan hari ini, tetapi menentukan kualitas peradaban di masa depan,” tutupnya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted