Menulis Hutan: Kisah-Kisah yang Tak Tercatat di Google

Bagikan

Oleh: Agus Jubaedi

narwala

Di era di mana segala hal bisa dicari lewat Google, ada satu kenyataan yang luput dari algoritma pencarian: kisah-kisah manusia yang hidupnya tak pernah tercatat, tapi bermakna begitu dalam.

Saya menulis dari pinggir hutan. Bukan metafora. Ini sungguh-sungguh wilayah yang masih dilingkupi kabut pagi dan gemuruh serangga malam. Di antara pohon-pohon damar dan suara burung yang jarang disebut dalam buku IPA, ada kehidupan yang tidak viral tapi vital. Di sinilah saya menemukan cerita—bukan dari layar, tapi dari tatapan mata dan tapak kaki yang berdebu.

Orang-Orang yang Tidak Pernah Minta Dikenal

Di sebuah dusun kecil di selatan Lebak, saya bertemu Mak Narwa, seorang perempuan sepuh yang setiap hari mengumpulkan daun kering untuk bahan bakar dapurnya. Ia tak tahu apa itu “literasi digital”, apalagi “AI generatif”. Tapi ia tahu betul bagaimana membaca arah angin, mengenali musim panen dari gerak semut, dan menenun tikar sambil melantunkan shalawat yang diwariskan dari ibunya.

“Kalau mau tahu keadaan tanah, jangan lihat dari Google. Cium baunya,” katanya sambil tersenyum. Saya terdiam. Di matanya, pengetahuan adalah sesuatu yang hidup, bukan sekadar informasi.

Dari Langit ke Layar, dari Hati ke Telinga

Anak-anak di sini belajar bukan dari YouTube, tapi dari dongeng kakek mereka. Tentang harimau yang menjaga hutan, sungai yang bisa bicara, dan pepohonan yang akan marah bila dirusak. Aneh bagi sebagian orang kota, tapi inilah bentuk pendidikan paling otentik yang pernah saya lihat: mengakar, membumi, dan menyentuh hati.

Mereka mungkin tak punya Wi-Fi, tapi mereka punya ikatan yang kuat dengan tanah dan langit. Mereka tidak sibuk memperbarui status, karena hidup mereka sudah cukup aktual dalam kesederhanaan dan ketulusan.

Bukan Sekadar Romantisme

Saya tidak sedang meromantisasi kemiskinan atau mengagung-agungkan keterbelakangan. Justru sebaliknya, saya ingin menunjukkan bahwa ada nilai yang sedang hilang dalam narasi besar pembangunan dan digitalisasi: kehidupan yang selaras dengan alam, dan kebijaksanaan yang tumbuh dari akar lokal.

Kita terlalu sibuk mengejar koneksi 5G, sampai lupa bahwa masih banyak desa yang belum punya jaringan listrik stabil. Kita bicara tentang smart city, tapi tak pernah benar-benar mendengar suara dari dusun sunyi.

Menulis Agar Mereka Tidak Hilang

Menulis dari pinggir hutan adalah cara saya melawan lupa. Bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta, bukan hanya trending topic, bukan hanya megaproyek dan megapixel. Tapi juga tentang mereka yang masih percaya pada doa, kerja keras, dan hidup yang cukup.

Mereka mungkin tidak tercatat di Google, tapi mereka tercatat di hati orang-orang yang pernah duduk dan mendengar kisah mereka.

Dan saya ingin kisah-kisah itu tetap hidup

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments