Ketika Rakyat Hanya Jadi Latar: Kajian Hegemoni Gramsci atas Politik Pencitraan di Kabupaten Lebak

Bagikan

Oleh: Diah(Wakil Ketua Komunitas Mahasiswa Taktis Demokratis Wanasalam) sekaligus peneliti BRIMA.

Narwala.id

Narwala.idKabupaten Lebak yang kerap menghadirkan wajah politik yang sarat dengan pencitraan, dalam berbagai momentum pejabat publik menampilkan diri sebagai “pemimpin rakyat” melalui kegiatan yang bernuansa hiburan, budaya, atau seremonial. Salah satu contohnya yang terjadi saat ini adalah Pesta Rakyat Gogo dan Nyair dalam rangka memeriahkan HUT RI ke 80 yang diselenggarakan oleh seorang anggota DPRD Provinsi Banten di Kabupaten Lebak, tepatnya di Desa Cipeucang, Wanasalam. Acara semacam ini tampak meriah, mengundang partisipasi massa dimana masyarakat tumpah ruah, saling bersorak sorai, dan dipublikasikan secara luas. Namun jika ditelaah lebih dalam, kegiatan tersebut tidak lebih dari panggung pencitraan politik.

Antonio Gramsci menjelaskan bahwa kekuasaan tidak hanya bertahan dengan paksaan, tetapi juga melalui hegemoni, yakni dominasi yang diterima karena dibungkus dalam konsensus, simbol, dan budaya (Gramsci, Selections from the Prison Notebooks, 1971). Dalam politik lokal, hegemoni bekerja ketika masyarakat “dilibatkan” dalam acara seremonial, namun keterlibatan tersebut sesungguhnya tidak lebih dari partisipasi semu.

Gramsci menyebut kondisi ini sebagai bentuk manufactured consent atau persetujuan yang diciptakan, bukan lahir dari kesadaran kritis (Gramsci, 1971). Rakyat merasa dekat dengan pemimpin, padahal hanya sedang digunakan sebagai latar legitimasi. Inilah yang tampak dalam fenomena tersebut. Dimana keramaian diciptakan, rakyat bersorak, tapi substansi kesejahteraan tidak hadir.

Acara Pesta Rakyat tersebut menjadi contoh konkret politik pencitraan. Ribuan masyarakat diajak berkumpul, suasana dimeriahkan, dihadiri oleh jajaran Polres dan Bupati Lebak,  kemudian media lokal memberitakan seakan pejabat dekat dengan rakyat. Dalam analisis dramaturgi Erving Goffman, ini adalah “panggung depan” tempat aktor (elit politik) menampilkan citra terbaiknya di hadapan penonton (Goffman, The Presentation of Self in Everyday Life, 1956).

Namun, di “panggung belakang”, tujuan utamanya bukan kesejahteraan masyarakat, melainkan eksistensi politik. Rakyat hanyalah dekorasi politik yang memperindah narasi kekuasaan. Mereka diundang bukan sebagai aktor yang berdaulat, melainkan sebagai properti panggung yang membuat drama kekuasaan terlihat meyakinkan.

Dalam bingkai hegemoni, rakyat digiring untuk menerima keadaan seolah normal. Mereka diajak larut dalam pesta sesaat, namun tetap dibiarkan hidup dalam keterbatasan. Demokrasi yang dijanjikan sebagai ruang artikulasi rakyat, di tangan elit, berubah menjadi demokrasi panggung.

Kondisi ini juga menunjukkan adanya hubungan patron-klien (Scott, Patron-Client Politics and Political Change in Southeast Asia, 1972). Elit lokal tampil sebagai patron yang memberi hiburan atau bantuan sesaat, sementara rakyat menjadi klien yang berhutang loyalitas. Relasi ini bukan membebaskan, tetapi justru melanggengkan ketergantungan.

Bagaimana sejahtera dapat tercapai jika masyarakat diperlakukan hanya sebagai latar pencitraan? Dalam kenyataan sehari-hari, angka kemiskinan, keterbatasan infrastruktur pendidikan, dan rendahnya pelayanan publik masih jauh dari cita-cita sejahtera. Semua seakan baik-baik saja, padahal kenyataannya tidak.

Dengan kondisi ini, sulit membayangkan bahwa Lebak benar-benar menuju kesejahteraan. Yang ada hanyalah reproduksi pertunjukan kekuasaan di mana rakyat jadi latar, sementara elit politik jadi bintang utama.

Acara Pesta Rakyat di Wanasalam, Kabupaten Lebak menunjukkan bagaimana hegemoni bekerja halus tetapi efektif. Dimana rakyat digiring untuk menerima pencitraan elit seolah-olah sebagai kepedulian. Padahal, substansi kesejahteraan jauh panggang dari api.

Dalam perspektif Gramsci sendiri, ini adalah kemenangan hegemoni kekuasaan bertahan bukan karena rakyat sejahtera, tetapi karena rakyat terbiasa menjadi latar dalam panggung pencitraan. Demokrasi pun tak lebih dari drama: dipentaskan, diramaikan, lalu ditinggalkan tanpa makna.

(Haruskah Kita Tetap Bodoh? Merayakan atau Meratapi?)

“Jika Pengabdian Menjadi Dasar Perjuangan Maka Dengan Segera Pergerakan Akan Berbuah Perubahan”

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments