FUDA UIN BANTEN Jadikan Syekh Nawawi Inspirasi Kebangsaan Modern

Bagikan
Sambutan Dekan FUDA UIN SMH BANTEN, Kamis 04 Juni 2026.

SERANG, NARWALA.ID – Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUDA) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten bekerja sama dengan Jejaring Dunia Santri menggelar Studium General dan Bedah Buku bertema “Menghidupkan Api Nasionalisme Syekh Nawawi Al-Bantani di Tanah Kelahiran: Jejak Lokal dan Dampak Global” di Aula FUDA Lantai 2 Kampus 2 UIN SMH Banten.

Kegiatan yang dihadiri sekitar 300 peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi, sejarawan, pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga pejabat pemerintah tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dan pembedah buku, di antaranya Jamal D. Rahman, Ngatawi Al-Zastrouw, Eva Syarifah Wardah, Mufti Ali, dan M. Shofin Sugito.

Dalam sambutannya, Dekan FUDA UIN SMH Banten, Masykur, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar membahas karya dan ketokohan Syekh Nawawi Al-Bantani, melainkan juga menjadi momentum untuk membangkitkan kembali kesadaran intelektual masyarakat Banten terhadap warisan keilmuan ulama Nusantara.

“Forum ini menjadi penting, bukan sekadar untuk membicarakan sebuah karya Syekh Nawawi, tetapi juga menyalakan kembali kesadaran intelektual kita tentang apa itu Banten, Islam, dan peran ulama Nusantara dalam membentuk peradaban,” ujar Masykur, Kamis (04 Juni 2026).

Menurutnya, Syekh Nawawi Al-Bantani tidak hanya layak dikenang sebagai ulama besar yang melahirkan puluhan karya monumental, Syekh Nawawi juga sebagai simbol kedaulatan ilmu pengetahuan yang berhasil membawa nama Banten ke panggung dunia Islam.

“Syekh Nawawi lahir di tanah Banten, tetapi pemikirannya melampaui batas geografis. Dari ruang lokal yang menembus jaringan intelektual dunia Islam, beliau membangun otoritas keilmuan yang diakui secara global,” katanya.

Masykur menjelaskan, nasionalisme yang diwariskan Syekh Nawawi bukanlah nasionalisme yang diwujudkan melalui slogan-slogan politik atau perebutan kekuasaan, Syaikh Nawawi menciptakannya melalui karya, pendidikan, dan pembentukan moral umat.

“Api nasionalisme Syekh Nawawi adalah nasionalisme ilmu. Ia tidak berteriak dengan slogan-slogan, tetapi berbicara melalui karya. Ia tidak membangun kekuasaan politik, tetapi membangun otoritas moral dan intelektual,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjadikan warisan intelektual Banten sebagai sumber pengembangan ilmu pengetahuan, bukan sekadar objek penelitian.

“Lokalitas bukan penghalang untuk mendunia. Justru dari akar lokal yang kuat lahir pemikiran yang memiliki daya jelajah global. Kita harus berani menjadikan khazanah lokal sebagai sumber ilmu, bukan sekadar objek riset,” ujarnya.

Lebih lanjut, Masykur menilai bahwa karya Jamal D. Rahman yang dibedah dalam kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana Banten menjadi ruang historis tempat agama, kolonialisme, sastra, dan pengetahuan saling berinteraksi dan berhadapan.

“Buku ini memperlihatkan bahwa Banten bukan sekadar wilayah sejarah, tetapi medan perjuangan dan perjumpaan antara Islam, kolonialisme, sastra, dan produksi pengetahuan,” katanya.

Ia berharap kegiatan tersebut mampu mendorong generasi muda untuk kembali meneladani semangat intelektual Syekh Nawawi Al-Bantani.

“Membaca Syekh Nawawi hari ini berarti membaca kembali relasi antara tanah kelahiran, ilmu, dan tanggung jawab sejarah. Banten tidak boleh hanya menjadi nostalgia masa lalu, tetapi harus menjadi sumber energi intelektual untuk membangun masa depan,” tuturnya.

Sementara itu, Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Muhammad Ishom, dalam sambutannya sekaligus membuka acara, mengulas sisi nasionalisme Syekh Nawawi Al-Bantani yang menurutnya sering kali luput dipahami banyak orang.

“Banyak orang bertanya, di mana letak nasionalisme dalam kitab-kitab Syekh Nawawi. Kalau yang membaca bukan kiai yang waskita, memang tidak akan ketemu,” ujarnya disambut tawa peserta.

Ishom menjelaskan bahwa nasionalisme Syekh Nawawi dapat ditemukan dalam karya-karyanya, terutama dalam kitab Al-Futuhat al-Madaniyah fi Syu‘ab al-Iman.

Dalam kitab tersebut, Syekh Nawawi menegaskan pentingnya menjaga martabat agama dan umat Islam di tengah dominasi kolonialisme.

Ia mengutip pandangan Syekh Nawawi yang melarang umat Islam hidup dalam ketundukan terhadap kolonialisme karena dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap agama.

“Beliau menulis, jangan kalian berdiri di tengah-tengah kaum penjajah yang menindas. Karena itu merupakan bentuk merendahkan agama Allah. Karena itulah beliau memilih hijrah,” jelas Ishom.

Menurutnya, bentuk nasionalisme Syekh Nawawi juga tercermin dalam ajarannya untuk melindungi sesama umat Islam, baik jiwa, keluarga, maupun harta bendanya.

“Syekh Nawawi mengajarkan agar apa yang kita miliki digunakan untuk melindungi saudara-saudara kita. Ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap umat dan masyarakat merupakan bagian dari semangat kebangsaan yang beliau wariskan,” katanya.

Ishom juga menilai bahwa pendekatan Syekh Nawawi dalam memandang perjuangan umat tidak semata-mata didasarkan pada analisis rasional, tetapi juga kedalaman spiritual.

“Beliau adalah ulama yang akademis sekaligus mistis dalam arti filosofis. Cara pandangnya bukan hanya menggunakan akal, tetapi juga kejernihan hati. Karena itu pemikiran beliau mampu membaca zaman jauh melampaui masanya,” ujarnya.

Ia menambahkan, Syekh Nawawi tidak dikenal sebagai ulama yang menyerukan perlawanan bersenjata secara langsung.

Namun, melalui karya-karya dan pendidikan yang dibangunnya, ia telah menyiapkan fondasi intelektual dan spiritual bagi perjuangan umat Islam Indonesia.

“Beliau tidak mengobarkan jihad dengan retorika. Tetapi beliau membangun kesadaran dan fondasi keilmuan yang pada akhirnya menjadi bagian dari kekuatan besar umat dalam memperjuangkan kemerdekaan,” kata Ishom.

Memasuki sesi pemaparan materi, penulis buku Islam, Sastra, dan Pengetahuan, Jamal D. Rahman, mengajak peserta melihat Syekh Nawawi Al-Bantani dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, buku yang ditulisnya tidak hanya membahas Syekh Nawawi, tetapi juga mempertemukan tiga tokoh besar yang memiliki hubungan dengan sejarah kolonialisme dan perkembangan pemikiran di Nusantara, yakni Syekh Nawawi Al-Bantani, Multatuli, dan Snouck Hurgronje.

“Multatuli dan Syekh Nawawi tidak pernah berjumpa secara fisik. Mereka adalah pertemuan tanpa perjumpaan. Mereka bertemu dalam sikap terhadap kolonialisme. Yang satu melawan kolonialisme melalui kitab kuning, yang lain melalui karya sastra,” ujar Jamal.

Menurutnya, nasionalisme dalam pemikiran Syekh Nawawi tidak diekspresikan secara terbuka sebagaimana konsep nasionalisme modern, melainkan ditanamkan secara halus melalui karya-karya keagamaan yang ditulisnya.

“Dengan tegas saya mengatakan bahwa meskipun nasionalisme pada masa itu belum dikenal, spirit nasionalisme Syekh Nawawi ditanamkan sangat halus tetapi sangat dalam kepada murid-muridnya melalui kitab-kitabnya,” katanya.

Jamal juga menyoroti konsistensi Syekh Nawawi dalam menyebut dirinya sebagai At-Tanari, Al-Bantani, dan Al-Jawi dalam berbagai karya tulisnya. Menurutnya, identitas tersebut menunjukkan keterikatan yang kuat terhadap tanah kelahiran dan Nusantara.

“Ketika Syekh Nawawi menyebut dirinya Al-Jawi, Al-Bantani, atau At-Tanari, sesungguhnya beliau sedang membangun kesadaran kebangsaan. Ada identitas ‘kami’ yang dibedakan dari kaum kolonial sebagai ‘mereka’,” pungkasnya.

Sementara itu, budayawan dan akademisi Ngatawi Al-Zastrouw menyampaikan bahwa nasionalisme Indonesia memiliki karakter yang berbeda dengan nasionalisme Barat.

Menurutnya, nasionalisme di Barat lahir dari tradisi humanisme liberal dan sekularisme, sedangkan nasionalisme Indonesia tumbuh dari perpaduan antara religiusitas, spiritualitas, dan rasionalitas.

“Nasionalisme di Indonesia sumbernya adalah spirit religiusitas dan spiritualitas yang dipadu dengan spirit rasionalitas. Ini yang membedakan nasionalisme Indonesia dengan nasionalisme yang ada di Barat,” ujarnya.

Ngatawi juga menjelaskan bahwa pemikiran Syekh Nawawi Al-Bantani menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun kesadaran kebangsaan. Ia menilai, cita-cita untuk menjaga kedaulatan negara, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat merupakan bagian dari nilai-nilai keislaman yang menjadi dasar lahirnya nasionalisme Indonesia.

“Spirit kebangsaan dalam pemikiran Syekh Nawawi lahir dari kesadaran bahwa negara yang berdaulat, adil, dan sejahtera merupakan sarana agar umat dapat menjalankan ajaran agama dengan baik,” katanya.

Adapun akademisi dan peneliti M. Shofin Sugito melihat Syekh Nawawi Al-Bantani sebagai tokoh yang tidak hanya berbicara tentang identitas lokal, tetapi juga membangun kesadaran kemanusiaan yang lebih universal.

Menurutnya, pemikiran Syekh Nawawi menunjukkan adanya keterhubungan antara identitas keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.

“Syekh Nawawi mengajarkan bahwa manusia memiliki keterikatan satu sama lain melalui solidaritas, tanggung jawab, dan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal,” ujarnya.

Lebih lanjut, Shofin menjelaskan bahwa identitas lokal dalam pemikiran Syekh Nawawi tidak pernah bertentangan dengan keterbukaan terhadap dunia yang lebih luas. Justru, identitas lokal menjadi fondasi untuk membangun kontribusi pada peradaban global.

“Manusia tidak perlu kehilangan identitas lokalnya ketika berinteraksi dengan dunia. Identitas lokal justru menjadi pijakan untuk membangun nilai-nilai universal yang lebih luas,” pungkasnya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted