
Narwala.id – Serang, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FASEI UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten bersama Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI) Komisariat UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dan Dewan Perwakilan Cabang (DPC) PERMAHI sukses menyelenggarakan kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi publik film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, Rabu (20/5/2026), di depan gerbang utama Kampus UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
Kegiatan tersebut menghadirkan Paangisme atau Farhan Chairunanda serta Andres Kai atau Andrean Maulana sebagai pemantik diskusi. Dalam forum tersebut, keduanya membahas berbagai bentuk kolonialisme modern yang dinilai masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat saat ini, termasuk persoalan regulasi Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua.
Melalui pemutaran film dan ruang diskusi terbuka, peserta diajak memahami bahwa kolonialisme tidak hanya hadir dalam bentuk penjajahan fisik, tetapi juga melalui sistem ekonomi, budaya, media, hingga pola pikir yang perlahan membentuk ketergantungan serta ketimpangan sosial di masyarakat.
Dalam penyampaiannya, Paangisme menegaskan pentingnya kesadaran kritis generasi muda terhadap realitas sosial yang terjadi di sekitarnya. Ia menilai mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk tetap berpihak pada nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
“Generasi muda hari ini harus mampu membaca realitas sosial secara kritis dan tidak terjebak dalam pola pikir yang dibentuk oleh kepentingan kekuasaan maupun kapitalisme modern. Mahasiswa harus tetap menjadi agen perubahan yang berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial,” ujar Paangisme.
Sementara itu, Andres Kai menyampaikan bahwa kolonialisme di era modern hadir dengan bentuk yang lebih halus, namun memiliki dampak besar terhadap kehidupan masyarakat. Menurutnya, ruang diskusi dan budaya literasi perlu terus dijaga sebagai bentuk perlawanan intelektual terhadap ketidakadilan sosial.
“Kolonialisme hari ini hadir dengan wajah yang lebih halus, tetapi dampaknya sangat besar terhadap masyarakat. Karena itu, mahasiswa perlu membangun kesadaran kolektif, memperkuat budaya literasi, dan menjaga ruang-ruang diskusi sebagai bentuk perlawanan intelektual terhadap pembungkaman dan ketidakadilan sosial,” kata Andres Kai.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Diskusi berjalan aktif dengan berbagai pertukaran gagasan dari mahasiswa dan masyarakat yang hadir. Forum tersebut menjadi ruang refleksi bersama terkait berbagai persoalan sosial yang dinilai masih relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
Ketua pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa agenda nobar dan diskusi publik ini merupakan bagian dari komitmen organisasi mahasiswa untuk menghadirkan ruang intelektual yang terbuka, kritis, dan responsif terhadap persoalan sosial kemasyarakatan.
“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus menjadi ruang belajar bersama bagi mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran sosial, memperkuat tradisi intelektual, dan menumbuhkan keberpihakan terhadap masyarakat yang mengalami ketidakadilan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, HMI Komisariat FASEI UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten bersama PERMAHI Komisariat UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dan DPC PERMAHI berharap semangat berpikir kritis dan kesadaran sosial mahasiswa terus tumbuh demi mewujudkan masyarakat yang lebih adil, berdaulat, dan berperikemanusiaan.

